Kutipan

Nothing Reason (Late Post) 

Terkadang saya heran, ketika saya pulang kampung untuk waktu yang sedikit lama (tidak lama sebenarnya, hanya 5 hari) orang-orang banyak yang menanyakan “kenapa? Ada apa? Kenapa lama sekali?”. Tidak sedikit orang yang menanyakan hal ini ketika saya pulang ke Sumenep pekan lalu. Dan saya hanya bisa menjawab “apa harus ada alasan untuk saya pulang ke kampung halaman saya?”. Saya pulang ya karena ingin pulang, ingin menjenguk dan berkumpul dengan keluarga, just it. 

Pulang ke kampung halaman itu tidak harus menunggu ada hal-hal suka seperti lamaran, atau pernikahan, dsb. Dan pulang ke kampung halaman juga tidak harus menunggu hal-hal duka seperti ada keluarga yang sakit misalnya, meninggal, dsb. saya pulang karena memang sudah saatnya saya meluangkan waktu untuk pulang, menjenguk orang tua, menghabiskan waktu bersama, melayani orang tua, dsb.

Home is where the love is, sebahagia apa dan sesukses apa kita di rantau, jangan lupakan orangtua dan keluarga yang ada di kampung halaman. Jangan berikan sisa waktu, tapi luangkan waktu. Kita tidak akan sebesar ini jika tidak ada orang tua dan keluarga. Harus selalu ingat pada asal muasal, dan percayalah salah satu obat rindu adalah pertemuan. Jangan siksa orang tua dan keluarga kita dengan rindu yang tidak berkesudahan. Bukan mudah menahan rindu itu, apalagi rindu orang tua pada anaknya. 

Surabaya, 19 November 2016 

​SPEKULASI TENTANG RASA (LISAN 2)


Kelanjutan dari post sebelumnya, kali ini tentang spekulasi rasa. Akan lebih baik kita hindari, berspekulasi tentang rasa. Menjudge tentang perasaan orang lain. Semisal ketika seorang Fulan berkata didepan umum “si Fulanah ini memang maunya menikah dengan fulan ini, tapi Fulannya tidak mau, emoh..emoh.. jare si Fulan”. Atau kalimat-kalimat “Fulanah suka sama si Fulan”. Tidak baik hal seperti ini dilisankan apalagi di hadapan banyak orang, bisa menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik dan dapat melukai hati yang bersangkutan. Jangan berspekulasi tentang rasa karena rasa adalah perkara hati, hanya pemiliknya yang tahu,  dan kita bahkan tidak berhak untuk sekedar memikirkannya. Siapa kita yang berani meraba-raba dan kemudian membeberkan isi hati orang lain. 

Hal lain juga yang tidak jarang saya temui adalah perkara bully-membully orang yang belum menikah. Bahkan tidak jarang ada orang yang menjudge saudaranya sebagai pribadi “pilih-pilih”, “halah palingan kamu yang pilih-pilih makanya tidak nikah-nikah.” maashaAllah. “kamu sih ga mau berusaha…”, “ih kamu keduluan lagi loh…”, “makanya jangan karir melulu yang diurusin…”, “kuliahnya ketinggian sih…” dsb. Mungkin kita berniat bercanda, berniat memotivasi dsb, tapi siapa yang dapat menjamin bahwa kalimat-kalimat kita tidak melukai hati mereka? Bahasa teman saya “mereka itu sibuk memperolok kita yang belum menikah, memangnya mereka sudah sempurna mengurus rumah tangga mereka?”.

Menikah bukan lomba lari yang bab nya adalah siapa yang paling duluan sampai. Siapa yang tahu bahwa barangkali sudara kita tersebut telah berusaha semaksimal yang dia bisa hanya saja Allah belum menghendaki? Siapa yang tahu bahwa barangkali saudara kita tersebut memang memiliki kesulitan yang lain sehingga belum bisa ke arah menyempurnakan separuh agama? Bertanya “kapan menikah” boleh tapi jangan sampai menjadi dengung nyamuk yang bunyinya sangat mengganggu kenyamanan orang tidur, apalagi jika ditambahi dengan spekulasi-spekulasi yang tidak baik. Dari segala permasalahan, yang dibutuhkan adalah solusi solutif, bukan kalimat yang semakin mengusutkan benang kusut. 

Sebagaimana Al.Bukhari dalam kitab Shahihnya No. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya No. 74 meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam mitab Shahihnya hadist No. 10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi saw bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Surabaya, 5 Januari 2017

CLBK KARENA HADIAH

        Saat kita merasa hubungan kita dengan teman, saudara, keluarga, tetangga, rekan kantor dsb sedang dalam titik nyaris saling membelakangi, tidak akur, tidak sehangat biasanya dsb, cobalah untuk saling memberi hadiah. Sebagaimana Rasulullah saw pernah bersabda : “Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari). 

Saya sudah pernah mencobanya, dengan teman kos. Biasanya kami sering ngobrol bareng dan kebanyakan ngobrolnya tentang buku dan toko buku, hang out bareng dsb. Namun belakangan ini hubungan kami sedikit renggang, entah karena kesibukan kami yang sangat menyita waktu, pulang dalam kondisi lelah yang pada akhirnya kurang memungkinkan untuk beramah tamah sekedar say hello atau memang karena iman kami yang menurun (terlebih saya) sehingga kurang bisa memperlakukan satu sama lain dengan hangat dan ramah penuh kasih sayang. 

Saya merenung dan kemudian mengingat tentang hadist di atas, akhirnya saya inisiatif mengambil beberapa cemilan yang saya miliki lalu saya ketuk pintu kamarnya dan saya berikan cemilan saya itu padanya. Dan benar saja, wajah kami pun saling sumringah, saling tersenyum hangat dan suasana pun kembali hidup seperti sebelum-sebelumnya.  Jadi, jika saat ini diantara kita ada yang sedang dalam posisi semacam di atas, segeralah membeli hadiah dan cobalah berikan padanya dengan tulus, tidak harus hadiah mahal yang terpenting adalah ketulusan, inshaaAllah hati-hati kita dengan saudara-saudara kita akan kembali tersambung dengan baik dan penuh kasih sayang. Semacam Cinta Lama Bersemi Kembali 😀

Surabaya, 5 Januari 2016

​SETAJAM SILET (LISAN 1)


Ada hal-hal yang boleh dibercandakan, namun ada juga hal-hal yang tidak baik untuk dibercandakan. Ketika seseorang yang kita kenal nampak selalu easy going dalam perkara obrolan atau bercandaan apapun bukan berarti dia akan selalu baik-baik saja dengan kalimat-kalimat bercanda yang di lontarkan. Bagaimanapun setiap manusia adalah manusia, memiliki hati dan akan ada masa dimana hatinya bisa saja terluka dengan kalimat-kalimat bercanda kita. Bisa membuatnya jadi patah semangat, menjadi lebih tidak percaya diri, dan hal-hal negatif lainnya dikarenakan kalimat yang keluar dari lisan kita, who knows? pun itu hanya berniat bercanda.

Bercanda yang berkaitan dengan fisik seseoarng adalah salah satu bercanda yang akan lebih baik jika dihindari. Salah satu contoh, saya pernah menemukan hal seperti ini, ketika seorang Fulan yang satu bercanda kepada Fulan yang satunya di depan seorang Fulanah berkata “Fulan, ini loh Fulanah berkenan jadi madu-mu (ciri khas topik bercandaan para om-om, tentang poligami)”, lantas di Fulan menjawab “wah kalau model-nya begini mah saya gak mau pak poligami pak”. Di lain waktu saya menemukan lagi, beberapa orang yang sedang rombongan rihlah, salah satu Fulanah berkata “karena tadi kita terburu-buru saya jadi belum sempat mandi.” lantas salah satu Fulan menyahut “memangnya ada bedanya kamu mandi atau tidak?”. Atau contoh lagi ketika seorang fulan berkata kepada fulanah dihadapan banyak orang “secara fisik kamu itu pantas jadi satpam”. Orang-orang yang tipe “tidak enakan” akan bersikap seolah-olah easy going saja, padahal bisa jadi hatinya terluka hanya saja dia menyimpan untuk dirinya sendiri.

Bisa jadi kalimat-kalimat di atas tidak dimaksudkan serius (atau bisa jadi juga memang serius) namun akan lebih baik jika bercandaan seperti itu dihindari. Siapa yang tahu kalimat kita yang mana yang akan melukai hati saudara kita yang bahkan bisa jadi akan membekas lama dihatinya. Ibarat paku yang ditancapkan pada sebatang pohon, ketika dicabut maka akan meninggalkan bekas. Begitu juga mempercandakan nasab seseorang, sungguh tidak ahsan. Sekali lagi pun itu hanya untuk bercanda, akan lebih baik diganti dengan kalimat-kalimat positif yang dapat menginspirasi pendengarnya. Apalagi jika pelakunya adalah orang-orang yang sebenarnya sudah faham mana yang baik dan mana yang sebenarnya tidak baik, to the point nya adalah orang-orang “ngaji”. Benar-benar harus pandai memilah mana yang baik untuk dikatakan dan mana yang kurang baik untuk dikatakan.

Ini juga, note to my self, tentang pribadi-pribadi yang suka nyinyir dengan keberhasilan orang lain, membicarakan keburukan-keburukan saudaranya kepada yang lain, sikap sinis, mencari-cari celah keburukan orang lain dan membeberkannya pada siapapun yang dia temui, dapat dipastikan jika yang mendengar adalah orang yang baik hatinya akan merasakan panas ditelinga dan tidak betah untuk berlama-lama berada di dekat orang dengan kepribadian seperti itu. Jika kita menemukan orang yang suka membicarakan keburukan oranglain kepada kita, jangan berteman dekat dengannya, karena bukan tidak mungkin ada masanya dia akan membicarakan keburukan kita didepan orang lain.

Saya mengenal seorang shalihah, berpenampilan syar’i, tidak pernah lepas qiyamul lail, tilawah al.qur’an, puasa senin-kamis, dzikir harian, namun disamping itu juga suka nyinyir dengan kesuksesan orang lain. Ada saja keburukan saudaranya yang dia ceritakan pada orang lain. Ketika seorang fulanah menikah, dia menyeracau “suaminya itu loh mbak gini gini gini gini, prosesnya itu loh mbak gini gini gini gini…”. Ketika seorang fulan dipindah ke tempat baru dengan jabatan yang bisa dikatakan lebih baik dia menyeracau “fulan ini loh mbak gini gini gini… dia bermasalah dengan istrinya gini gini gini… dia dapat uang mutasi tapi dia gini gini gini”, hhhhh… buang Hayati ke rawa-rawa bang. (Terkait seorang shalihah ini, jangan digeneralisir yaa, dari kisah di atas bukan berarti semua sama seperti ini, ini kebetulan saja ada, semoga Allah senanatiasa memberikan hidayah kepadanya, kepada saya dan kepada kita semua)

Untuk apa kita mengurusi perkara-perkara oranglain yang kita tidak berhak mengurusinya, biarkan itu urusan dia, tidak akan ada untungnya kita membicarakan kekurangan-kekurangan orang lain. Menuliskan hal ini bukan berarti saya sudah menjadi pribadi yang baik, saya-pun sedang dalam proses memperbaiki diri. Segala hal diatas menjadi refleksi pribadi juga untuk saya, agar lebih berhati-hati dalam berkalimat. Semoga Allah mengampuni saya atas lisan-lisan yang tidak terjaga. 

Surabaya, 5 Januari 2017

Kutipan

SEMANIS HIKMAH

img_9950

Lama tidak menulis, kali ini coba saya tuliskan sesuatu yang menurut saya menggelikan dan membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus tepok jidat. Kemarin lusa disiang yang terik saya berangkat menuju tempat ngaji pekanan. Saat itu saya kebagian tugas untuk taujih, jadilah surat Al.Imran 130-134 menjadi pilihan saya. Sepanjang perjalanan saya ulang-ulang muroja’ah 4 ayat tersebut, itung-itung juga untuk menyabarkan diri dengan panas dan macetnya jalanan Surabaya.

Belum separuh perjalanan tiba-tiba ada sepeda motor yang dikendarai 2 anak muda menyerempet motor saya, untungnya tidak sampai terjatuh hanya saja spion saya lepas. Spion yang tadinya tinggal satu sebelah kanan, kini tidak ada dua-duanya. Saya kaget dan merasa marah, jalanan macet begini bisa-bisanya anak muda itu ngebut semaunya sendiri. Rasa-rasanya saya ingin mengejar dan memarahinya agar lebih berhati-hati jika berkendara. Saya lanjutkan perjalanan dengan perasaan masih kesal. Saya coba untuk menghilangkan rasa kesal itu, sepanjang perjalanan masih dengan hati yang sedikit terkejut dengan kejadian tadi saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri “Ya Rabb kenapa tetiba terjadi seperti ini ya, kira-kira hikmah apa yang ingin Allah sampaikan padaku? Kenapa terjadi seperti itu? Apa ada kesalahan yang aku lakukan sebelumnya?” dsb.

Tidak sampai disitu, sepanjang perjalanan hingga sampai lokasi ngaji dua kali saya bertemu motor yang bawaannya kesusu dan semau sendiri sehingga nyaris mencelakai saya. Saya merasa kesal dan terus berpikir “klenapa hari ini saya dipertemukan dengan tiga kali hal yang semacam ini” bahkan hingga sampai di gerbang tempat saya ngaji sempat terlintas di benak saya “awas dua anak muda tadi ya, kalau sampai aku bertemu dengannya lagi akan ku marahi dia”.

Memasuki tempat ngaji, saya langsung berbaur dengan yang lain. Berkumpul bersama orang-orang shalih benar-benar hal yang menyejukkan, membinarkan wajah yang murung, menguraikan benang yang kusut dan mencerahkan hati yang kusam. Tiba giliran saya mneyampaikan taujih, saya mulai membacakan surat Al.Imran ayat 130-134, saya mulai menjabarkan maksud dari ayat-ayat itu, hingga pada kalimat “yang menahan amarahnya..” saya tercekat dan beristighfar, dilanjutkan “dan memaafkan kesalahan orang lain” saya langsung tertawa sambil tepok jidat “yassalaaaam….” desis saya.

Teman-teman pada heran kenapa saya tetiba tertawa. saya pun menjelaskan “ini tadi saat perjalanan kesini saya muroja’ah surat ini dengan artinya sebagai persiapan saya ngisi taujih, tiba-tiba saya diserempet orang, saya merasa kesal dan juga sekaligus mikir apa hikmah yang ingin Allah sampaikan, ini barusan saya sadar hahaha.. Allah mengujinya pada saya, tentang –menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain-,  ya Raabbb… nampaknya hal ini terjadi agar saya tidak menjadi orang yang hanya bisa menyampaikan kebaikan pada orang lain tapi tidak bisa mengaplikasikannnya pada diri saya sendiri”, yang lainpun ikut tertawa dan angguk-angguk tanda sepakat. “iya mbak saya juga kadang begitu kok…” kata salah satu teman saya, dan mengalirlah cerita-cerita penuh hikmah dari teman-teman saya. Kami sharing berbagi hikmah dari segala kejadian yang pernah kami alami, subhanallah… sungguh Allah Maha Penyayang yang memberikan kita kesempatan merasakan manisnya hikmah.

Dan adalah respon teman-teman kantor saya tentang kejadian ini ketika saya bercerita pada mereka :

Bapak 1 : “Hhhh… kasian motornya, sudah tidak pernah di rawat celaka pula”

Bapak 2 menyahut : “nggak pernah dicuci lagi, nunggu malam suro baru dicuci pake air kembang”

Bapak 3 menyahut juga : “Coba td murojaah surat An Nisa pasti…???”

Hahaha… begitulah mereka, ada saja yang membuat saya tertawa senang ^^

Surabaya, 23 Desember 2016

– Mental Illness –

Pada umumnya anak-anak ketika diberi kue akan merasa senang dan menerimanya dengan rasa penuh bahagia, kali ini berbeda. Anak lelaki berusia kurang lebih 10-11 tahun tertawa-tawa sendiri di stasiun kereta api Belimbing, Malang. Tidak beralas kaki, dia memasuki stasiun yang sepi itu, hanya ada aku dan seorang satpam juga penjaga loket penjualan tiket kereta. Dia duduk dan kemudian berkata-kata dengan setengah berteriak, seolah ingin mendengarkan suaranya yang memantul kembali dari tembok-tembok stasiun. Sesekali dia tertawa-tawa, awal mulanya aku kira dia anak jalanan seperti biasanya.
Ku keluarkan kotak kecil berisi satu bungkus kue yang belum ku makan sejak perjalanan dari Surabaya. “Kalau ku berikan hanya berisi satu kue begini kok ya gimana…” pikirku dalam hati. Aku pun beranjak mendekati warung kecil, membeli air mineral gelas dan sebungkus keripik tempe untuk melengkapi kotak berisi kue tadi, ku masukkan dan ku rapikan, “akan ku berikan padanya…” pikirku.

 Dia berada di luar stasiun setelah di usir pak satpam gara-gara berteriak-teriak tidak karuan. Lonceng stasiun berbunyi tanda bahwa akan ada kereta lewat, pak Satpam segera keluar dan menjaga pagar luar seolah khawatir jika anak laki-laki tadi nekat meloncati pagar stasiun dan kemudian loncat ke tengah rel kereta, perkiraanku begitu. Melihat pak Satpam menjaga di pagar samping stasiun, anak lelaki itu bergegas berlari menuju pintu utama stasiun, di berdiri di depan pagar dan kemudian loncat-loncat sambil berteriak girang melihat kereta api itu lewat. “Syukurlah dia tidak loncat pagar dan berlari ke tengah rel kereta seperti perkiraanku tadi… ah konyol juga khayalanku, tapi kan bisa saja, mengingat dia labil ga jelas begitu…” bisikku berbicara pada diriku sendiri.

Dia berjalan di depanku, langsung ku sodorkan kotak berisi kue lengkap dengan air mineral dan kripik tempe, dan kau tahu apa yang terjadi? Dia menghardik-ku “hah!” katanya dan berlalu begitu saja masuk kembali ke dalam stasiun. Aku kaget, “hhhh… setidaknya dia tidak melemparku dengan kotak kue itu…” pikirku.  Anak lelaki itu kembali duduk dan berteriak-teriak seperti tadi, tertawa-tawa sendiri. Aku mulai mengabaikannya, “ya sudah kalau tidak mau…” kataku dalam hati, lagi-lagi bicara dengan diriku sendiri. Resah menunggu teman yang tak kunjung datang, aku mulai mengingat masa-masa lalu selama di Malang, mengingat hal-hal lucu yang pernah terjadi di kota dingin itu, dan segala hal lainnya. Aku mulai mengambil buku catatan dan mulai menulis. Anak lelaki tadi tetiba duduk di depanku, “Hmmmm… mulai mencari perhatianku dia…” bisikku dalam hati (ge-er kali ya hahaha). Masih duduk tidak jauh dari hadapanku, dia berbicara-bicara sendiri entah bicara apa, lalu tetiba aku mendengar dia berkata “jangan sedih…”. Hegh… -_-‘, apa aku yang salah dengar, atau memang dia yang merasakan bahwa aku sedang sedih saat itu. ah entahlah… aku memilih mengacuhkannya, walau dalam hati aku memikirkan anak itu, berpikir bagaimana dia bisa menjadi seperti itu dalam usia masih kecil. 

Tidak lama kemudian dia beranjak menjauh ke dalam stasiun, tertawa-tawa kembali. Terdengar suaranya kembali berteriak-teriak tidak jelas, lantas kembali duduk di dekatku. Kali ini bukan di depanku, tapi di sampingku. “Hmmmm… benar-benar dia mulai mencari perhatianku, apa dia mulai ingin kue itu ya? Kenapa tadi dia tidak mau? Apa mungkin tadi dia berpikir aku ngerjain dia dengan kerdus kosong?” bisikku dalam hati. Aku mengambil kesempatan itu, mumpung dia duduk tidak jauh di sampingku, aku buka kerdusnya dan aku perlihatkan isinya, aku sodorkan padanya, tapi dia kembali menolak, kali ini dengan cara lebih baik dari tadi. “Nggak mau…” katanya. Hmmmm… “dia laki-laki, mungkin dia punya harga diri yang besar sehingga tidak mau begitu saja menerima pemberian orang lain, dia tidak ingin dikasihani. Atau mungkin dia trauma dengan makanan pemberian orang?” aku mulai mereka-reka. Pada akhirnya aku menyerah, dia masih duduk tidak jauh dariku. Aku kembali menulis-nulis di buku catatatn. Tetiba aku mendengar dia berkata “terima kasih…”, lalu kembali tertawa-tawa sendiri dan berbicara sendiri. Kata ibu penjaga warung, anak itu sakit jiwa. 

Aku tidak tega memikirkannya, bagaimana bisa dia menjadi seperti itu. dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memikirkannya saja. Hingga temanku datang menjemput, kue itu aku bawa pergi dan ku berikan pada temanku. “hhhh… harusnya kue ini ku tinggal saja di kursi stasiun tadi, kali saja nanti dia mau mengambilnya. Barangkali sebenarnya dia ingin, tapi dia takut, atau tapi dia gengsi…” dan atau-atau lainnya, bertebaran di pikiran. 

Surabaya, 17 Oktober 2016

Kutipan

Sambal Goreng Tempe

PhotoGrid_1471243845474

Siang hari di sebuah kota kecil yang penuh damai, nampak gadis kecil berseragam merah putih baru pulang sekolah, duduk manis di atas becak langganan yang memang sudah biasa dikontrak untuk antar jemput anak sekolah SD. Sampai di Kampung Arab si gadis kecil turun dari becak dan berlari riang menuju rumah kontrakan kecil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan itu memanjang ke belakang. Di terasnya terdapat taman kecil sekali memanjang berukuran kurang lebih 1,5 meter kali 0,5 meter berisi tanaman sirih (mendominasi), bunga melati, lidah buaya, dsb. Di depan taman ada selokan memanjang kanan-kiri membatasi rumah kontrakan itu dengan jalan trotoar. Lurus ke belakang rumah itu berisi ruang tamu, ruang tv dan kamar tidur orang tua, kamar tidur anak, dapur dan kamar mandi. Karena tipenya memanjang, pandangan dari jendela ruang tamu bisa sampai menembus ke dapur.

Si gadis kecil melihat ke dalam rumah dari balik jendela ruang tamu, di kejauhan sudut belakang rumah nampak tangan ummi’nya sedang menggoreng sesuatu. Dia tersenyum nakal, “ummiiii’… assalamu’alaykuum” teriaknya dan bergegas bersembunyi di balik pintu. Dapat dirasakan bahwa ummi’nya akan melongo ke jendela dan kembali memasak ketika menyadari tidak ada orang di balik jendela. Si gadis kecil kembali berteriak “ummiiii’…. assalamu’alaykuum..” dan bergegas bersembunyi kembali di balik pintu sambil tertawa-tawa kecil, merasa senang ngerjain ummi’nya. Begitu berulangkali hingga akhirnya pintu rumahpun di bukakan dan si gadis kecil cengengesan “hehehe… ummi’, assalamu’alaykum…”, ujar si gadis kecil mengambil tangan si ummi’ dan menciumnya. Si ummi’ pun tersenyum “wa’alaykumussalam, kamu ini ya ngerjain ummi’ terus..”. “…ummi’ sedang masak apa tadi aku lihat tangan ummi’ lagi goreng-goreng” ujar si gadis kecil dengan wajah berbinar. “Ummi’ masak sambal goreng tempe kesukaan kamu…” kata si ummi’.

Masih dengan seragam merah putih, si gadis kecil berlari ke dapur mengambil sutil dan mengaduk-ngaduk sambal goreng tempe yang masih berada di atas api kompor. “Ummi’ aku cicipi yaaa…” si gadis kecil mengambil beberapa potong tempe kecil-kecil itu dibagian yang banyak bumbunya dan mencicipinya. “Enak ummi’….” serunya dengan mata berbinar. Dalam keluarga si gadis kecil pada masa itu sambal goreng tempe merupakan lauk mewah yang sangat dinanti.

Sambal goreng tempe penuh cinta dan bayangan tangan sedang menggoreng sesuatu yang nampak dari jendela ruang tamu itu sangat membekas di hati si gadis kecil berseragam merah putih. Setiap kali ummi’nya memasak dia akan selalu memperhatikan, seberapa potongan tempenya, seberapa matang tempe itu terlebih dahulu di goreng, bumbunya apa saja, bagaimana menguleknya, bagaimana mengiris bawang daunnya, menggoreng bawang daunnya hingga harum, memasukkan bumbunya ke wajan yang berisi bawang daun sedang di goreng tadi, bahkan hingga step cobek di beri air di bersihkan sisa bumbunya dengan penguleknya lalu di masukkan air itu ke dalam wajan berisi bumbu tadi. “Masih ada bumbu tersisa di pinggir-pinggir ini, sayang kan…” ujar si ummi’ saat menuang air ke cobek.

Hingga beranjak dewasa, sambal goreng tempe itu tetap membekas di hatinya, setiap kali memasaknya tidak pernah luput dari step-step yang diajarkan ummi’nya, bahkan hingga step cobek di kasi air dan step incip-incip dimana bagian yang di incip adalah bagian yang banyak bumbunya :D. Dan bayangan tangan sedang memasak yang nampak dari balik jendela ruang tamu itu juga tidak pernah hilang dari ingatannya, rutinitas yang selalu dia lihat dari balik jendela setiap pulang sekolah.

Itulah, jawaban dari “kenapa harus sambal goreng tempe?”

 

Surabaya, 15 Agustus 2016

dear ummi’, with love