Kutipan

ORANG BERILMU

Sungguh indah segala perumpamaan yang Allah berikan pada kita dalam Al.Qur’an yang mulia. Salah satunya adalah tentang rumah laba-laba pada surat Al.Ankabut ayat 41. Bahwa setiap kita yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti rumah yang dibuat laba-laba, lemah dan rapuh.

Dan yang menohok adalah kalimat pada dua ayat setelahnya, bahwa perumpamaan-perumpamaan itu tidak akan bisa dipahami kecuali oleh orang-orang yang berilmu.

Betapa pentingnya menjadi orang yang berilmu terutama ilmu agama, karena hanya dengan begitu kita bisa memahami segala hal yang ingin Allah sampaikan pada kita baik melalui Al.Qur’an maupun hadist.

Bahkan dalam hadist ada banyak tercantum tentang keutamaan orang-orang yang berilmu. Maka selagi ada kesempatan usia dan waktu, mari kita maksimalkan diri untuk senantiasa belajar dan menuntut ilmu, segala ilmu apapun itu yang bisa membawa kebaikan untuk kita, terutama ilmu agama.

Surabaya, 30 November 2018
Moon

Iklan
Kutipan

Ruang Rindu, Sekolah

Percaya atau tidak, sekolah adalah masa-masa emas yang dengan seiring berjalannya waktu tidak akan dapat kita ulang kembali. Jika kita tidak menyelesaikannya dengan baik hanya karena alasan malas, capek, panas, pusing, dsb maka yakin suatu saat kita akan menyesalinya.

Beberapa bulan yang lalu saya menemukan salah satu anak binaan yang sudah 3 bulan tidak sekolah dengan alasan capek, panas, dan karena tidak dibelikan paket data oleh ibunya, padahal dari kalangan sangat tidak mampu.

Saya sangat menyesali hal ini terjadi, sebisa mungkin saya mengejar anak ini agar kembali sekolah. Namun hingga saat ini belum juga berhasil, ananda juga salah pergaulan. Entah bagaimana ceritanya sekarang dia berteman dengan om-om dan ikut kebiasaan mereka seperti mencuri dan berjudi.

Tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyesali waktu dan kesempatan yang kita lewati begitu saja. Saya pun sangat rindu masa-masa sekolah.

Dulu saat sekolah SD, dengan polosnya saya bilang pada ummik saya, “Ummik, aku ingin jadi orang dewasa saja. Tidak enak jadi anak kecil, harus bangun pagi, berangkat sekolah, belajar, capek ummik.”

Dan sekarang jika ingat kalimat itu, saya jadi mentertawakan diri sendiri. Ternyata menjadi dewasa lebih melelahkan, bebannya tidak sedikit, lebih baik jadi anak sekolahan. Kurang apa anak sekolah itu, tugasnya hanya belajar. Belajarnya pun bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirinya sendiri.

Maka bagi para anak sekolah, bersemangatlah dan jangan berhenti melangkah. Nikmati dengan baik masa-masa sekolah, pilih teman yang membawa kebaikan. Yakinlah, suatu saat nanti kita pasti akan merindukan masa-masa sekolah.

Surabaya, 29 November 2018

Moon

Kutipan

Jangan Paksa Lupa

Hari berganti waktu berlalu, ada banyak warna hidup yang telah kita lalui. Semuanya mengendap dalam hati dan pikiran. Segala kenangan masa lalu entah baik maupun buruk, bercampur menjadi satu dalam memori kehidupan kita.

Sebagaimana ragam keadaan langit, terkadang dia cerah menyegarkan dan penuh semangat, kadang mendung dengan rasa suram dan mengkhawatirkan, kadang pula hujan dengan membawa berkah dan kenangan serta genangan.

Begitu juga dengan hari-hari kita, kadang ada hal-hal baik yang rasa-rasanya ingin selalu kita ingat sepanjang masa. Dan tidak jarang pula ada hal-hal kurang baik yang rasa-rasanya ingin segera kita hapus dan lupakan sepenuhnya. Sesegera mungkin, sebisa mungkin, dan secepat mungkin.

Untuk segala hal yang kurang baik atau menyakitkan, jangan terlalu memaksakan diri untuk melupakannya. Semakin keras kita berusaha untuk melupakan terkadang justru akan semakin kuat kita mengingatnya dan semakin dalam luka yang kita rasakan.

Biarkan hal-hal yang ingin kita lupakan itu menetap sejenak dalam hati dan pikiran, jangan sedih yang berlarut dan jangan terlalu memaksakan diri untuk melupakan. Benar adanya, segala yang berlebihan itu tidak baik. Semakin kuat kamu membenci sebuah kenangan, semakin sulit kamu lepas darinya.

Bagaimanapun, segala kenangan yang baik ataupun tidak itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang memberi kita pelajaran berharga. Yakin dan percayalah, pada akhirnya waktu dan segala yang ada akan membuat kita lupa dengan sendirinya. Bersemangatlah! ^^

Surabaya, 24 November 2018

-Moon-

Pict,by. Pixabay

Kutipan

Missing You

Ketika cuaca panas, kita merindukan hujan.
Ketika hujan deras, kita merindukan hari-hari yang cerah.
Begitulah rindu, yang menjadi bahannya adalah jarak, waktu dan sesuatu yang tidak ada di sisi kita.

Surabaya, 9 November 2018

Moon

#coratcoret

Pict. By. Pixabay

Kutipan

KUSRI

“Halati, mana kusrinya … ” teriak Ema.

Saya mengernyitkan dahi, tidak paham dia bicara apa.

“Kusri halati kusri!” ulang Ema.

“Kusri apa Ema?!” tanya saya, masih tidak paham.

“Kusriiiiiii! Kusriiiiii!” teriaknya sambil menunjuk saya dan dgn nada kesal karena saya tidak juga paham.

Babanya yang mendengar dari kejauhan lantas menyahut, “Kursi.”

😅😂 ternyata maksudnya adalah kursi, kursi yang saya duduki, yassalaam, kusri 😅😂

Kutipan

Buah Hati

Pagi menjelang siang, aku yang tenggelam dalam lamunan dikagetkan oleh bunyi klakson yang begitu nyaring. “Woy, minggirrr!! Dasar emak-emak!!” teriak supir angkot. Perjalanan pulang ke rumah tidak ku lanjutkan, dalam kondisi seperti ini aku tidak ingin berada di rumah yang sunyi senyap itu. Aku memilih mampir ke taman kota, duduk termenung di bawah pohon, menyaksikan anak-anak muda bermain skateboard.

Aku berusaha untuk melupakan apa yang baru saja aku dengar, namun tetap saja, kalimat pak Suroso terngiang di kepalaku.

“…daripada kamu menunggu lama, menikah lagi saja.” kata pak Suroso pada mas Galih.

Aku yang saat itu baru saja tiba tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan bergegas pergi, tidak ingin membuat mereka merasa tidak nyaman karena mengetahui keberadaanku.

Malam berlalu, menjelang subuh masih dengan balutan mukena aku menghampiri mas Galih yang masih tidur di kamar. Perlahan aku duduk di sisi ranjang, mengamati wajah teduh penuh humoris yang telah 17 tahun lamanya membersamaiku menjalani hari-hari.

Air mataku tak terbendung, segala kenangan dari awal menikah dengannya bertebaran diingatan. “Aku begitu mencintai pria ini.” bisikku dalam hati. Aku berharap sekali bisa membahagiakannya dengan memberi buah hati, namun Tuhan belum mengizinkanku mengemban amanah menjadi seorang ibu.

********

“Mas … ” kataku pelan saat menemaninya sarapan roti bakar dan secangkir kopi. “Hmmm … ?” jawab mas Galih. “Aku mengizinkan mas Galih mendua, sudah 17 tahun lamanya mas Galih menunggu buah hati namun belum juga bisa aku berikan,” kataku sambil terisak. Aku tidak berani menatap mas Galih, wajahku tertunduk tenggelam dalam tangis.

“Baiklah kalau begitu … ” jawab mas Galih.

Aku tersentak, seketika wajahku terangkat dan menatapnya. Aku tidak menyangka mas Galih akan menjawab semudah itu, aku kira dia akan menolak dan mencoba menghiburku sebagaimana kebanyakan cerita, namun ternyata ekspektasiku salah.

Aku kembali tertunduk, “Kok nangisnya tambah kenceng? Jadi sebenarnya kamu ngizinin aku atau nggak?” tanya mas Galih. “Iya, aku izinkan … ” jawabku masih dengan tangis.

Sepertiga malam, aku kembali menangis dalam sujud dalamku. Memohon kelapangan hati kepada Sang Pemilik hati, hari ini mas Galih akan membawaku ke rumah perempuan yang akan dipinangnya.

********

Aku merasa sesak, entah sesak karena pengapnya ruang tamu itu atau karena aku akan bertemu perempuan kedua pilihan mas Galih. Ibu tua yang masuk ke dalam untuk memanggil perempuan itu keluar sambil menggendong bayi.

“Ini perempuan yang akan aku pinang, menjadi anak kita, bagaimana?” ujar mas Galih. Seketika aku memukul dada bidangnya, “mas Galiiiiihhhhh…” kataku sambil menangis kesal. Mas Galih memelukku sambil tertawa dan berkata, “Kamu itu, apa kamu pikir akan semudah itu aku menduakanmu. Sudah jangan nangis, itu si nenek bingung nah ngelihatin kita.”

Aku mengusap air mata, melihat bayi yang ada dalam gendongan ibu tua itu. “Anak ini yatim piatu, ayah ibunya meninggal karena kecelakaan sebulan yang lalu, neneknya sendirian tidak bisa merawatnya, bagaimana? Kamu berkenan?” tanya mas Galih padaku.

Aku menatap bayi mungil yang kini berada dalam gendonganku itu, air mataku tak tertahan. Tuhan memberiku anugerah terindah berupa suami yang sangat mencintaiku, aku ingin mensyukurinya dengan merawat anak ini. “Iya mas, aku berkenan, kita rawat bayi ini ya … ” kataku berbinar menatap mas Galih.

-The End-

Fiksi Mini by. Ceu Moon

Kutipan

Cinta Di Ujung Senja

Malam semakin terasa dingin, suara debur ombak laut terdengar menyatu dengan alunan lagu Always Somewhere milik Scorpions dari sound resto pinggir pantai itu. Renata tertunduk dihadapan Yoga, menggenggam erat buku Siluet Senja dalam pangkuannya.

“Maafkan aku mas … “ ucap Renata pelan sambil menitikkan air mata.
“Aku ga bisa Re!” tegas Yoga.

Tiga tahun lamanya Renata menjalin hubungan dengan Yoga, tidak pernah terlintas dipikirannya akan meminta untuk memutuskan hubungan itu. Entah bagaimana buku Siluet Senja itu membuatnya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, Renata merasa selama ini jalan hidupnya telah salah.

“Aku ingin hijrah mas, aku ingin berubah. Tidak seharusnya kita berpacaran seperti ini, aku juga mau berhenti jadi model,” ucap Renata dengan linangan air mata menatap kekasihnya.

“Aku ga bisa Re! Aku ga mau putus sama kamu, kita sudah 3 tahun pacaran. Kamu tahu kan seberapa besar aku mencintai kamu. Keluarga kita sudah dekat dan saling mengenal satu sama lain, mama juga sudah terlanjur suka dan sayang sama kamu.” Yoga menatap Renata lekat.

“Tapi mas … “ Belum selesai kalimat Renata, Yoga beranjak dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa.

Renata menatap buku Siluet Senja dalam genggamannya, buku itu dia dapatkan di dalam laci bangku sekolah bersamaan dengan surat yang dikirim entah oleh siapa. Sebulan lamanya Renata mendapatkan surat tanpa nama yang berisi nasehat-nasehat keislaman.

“Wooooh … surat dari secret admirer ini,” kata Diana pada Renata saat pertama kali dia mendapatkan surat itu.

Selama ini Renata begitu menikmati hidupnya yang penuh kesenangan, menjadi seorang model yang tampil disana-sini. Paras cantik dengan rambut panjang indah terurai membuat kakak-kakak kelas kagum padanya. Tidak ada yang menyangka bahwa Renata akan berubah bahkan tetiba mengenakan jilbab.

Sepertiga malam, Renata kembali larut dalam sholat malamnya. Dalam sujud Renata menangis meminta kemudahan untuk bisa lepas dari Yoga, kekasih yang sangat dicintainya. Renata merasa tidak sanggup dan tidak tega untuk memaksakan kehendaknya pada Yoga.

“Rabb … bagaimana caraku keluar dari hubungan ini.” Renata menangis tersedu menelungkupkan tangan di wajahnya.

********

Hari berlalu, doa Renata terkabul dengan caraNya yang indah.

“Re … Yoga kecelakaan saat perjalanan pulang ke Surabaya, meninggal dunia Re … “ tangis mama Yoga pecah terdengar dari balik telepon.

Renata terduduk lemas, air mata mengalir deras. “Ya Raaabbb…”

Masih dalam kondisi tidak percaya, Renata bergegas ke rumah Yoga ditemani Diana. Sepanjang perjalanan Renata tidak mampu menahan air mata.

Rumah Yoga tampak ramai oleh kehadiran para pelayat, perlahan Renata melangkah memasuki ruang tamu. Tampak jenazah Yoga berbalut kain jarik, Renata terduduk lemas.

Diana memeluknya erat, “Sabar Re … “ ujar Diana.

“Setiap malam aku meminta kepada Allah untuk berpisah dengannya Di, tapi bukan dengan cara seperti ini.” Renata menangis.

Tidak pernah terbayangkan olehnya akan berpisah dengan Yoga selamanya. Jika saja bisa, Renata ingin mengulang waktu dan kembali pada masa dimana dia terakhir kali bertemu dengan Yoga malam itu.

Malam itu, sebenarnya aku ingin berkata, kamu cantik dengan jilbab itu Re. Aku suka kamu hijrah, dan aku ingin membersamai hijrahmu. Jangan memutuskan hubungan denganku, kita menikah saja, bagaimana? Aku mencintaimu.

Kalimat terakhir Yoga, tertulis di buku hariannya.

-The end-

Fiksi Mini by. Ceu Moon
Surabaya, 23 Juli 2018