Kutipan

DONAT KENTANG (Day 2)


Hari kedua long weekend di kampung halaman, kali ini coba-coba lagi bikin donat. Ini kedua kalinya bikin donat, yang pertama bikin donat bareng teman-teman halaqoh dan hasilnya lumayanlah walaupun agak garing gronjal-gronjal tidak mulus dan (lagi) mendekati gosong hehe, nampaknya karena apinya kebesaran. Eh tetiba aya jadi ingat om saya (adik ummi’ saya) yang ada di Bangil, beliau pandai sekali masak, mau jenis makanan apapun dan kue apapun beliau bisa dan hasilnya enak, bahkan beliau juga bisa menjahit dan membuat baju. Haaaaaa…. padahal beliau laki-laki, dan saya yang perempuan masak ga bisa, pokoknya apapun yang terjadi saya harus bisa! Hohoho..

Bikin donat ternyata ga sulit-sulit amat, hanya saja memang butuh sedikit tenaga saat meng-uleni adonan sampai kalis (dibanting, di tepuk, di remas, lama-lama bisa berotot juga). Bahan yang saya pakai : tepung terigu, kentang, telur, susu plan, mentega, fermipan 1 sachet, gula pasir, meses cokelat. Fermipan diberi air hangat dan diamkan, kentang dikukus dan mentega di cairkan. Saya pakai 2 butir telur, yang lainnya tidak pakai takaran (masih tetap pakai feeling, dikira-kira yang sekiranya akan pas hehe). Telur dan gula di mixer hingga mngembang (ga dimixer juga gak pa-pa kayaknya), masukkan fermipan, susu, kentang rebus yang sudah dihaluskan dan tepung terigu. Aduk rata dan uleni sampai kalis, sampai adonanya tidak lengket lagi ditangan. Kalau sudah, adonan di buat bulat-bulat, taruh atas wadah dengan jarak yang agak renggang (karena nanti akan mengembang) lalu diamkan 15-20 menit. 

Kalau adonan sudah nampak mengembang maksimal, lubangi tengahnya dan goreng dengan api sedang. Sering-sering di bolak balik karena cukup cepat matangnya donat dan mudah gosong jika tidak benar-benar diawasi. Biarkan dingin lalu olesin mentega dan taburi meses cokelat, jadilah donat kentang ala-ala anak muda hahaha… hasilnya lumayan enak, empuk. Bisa dikatakan tingkat keberhasilannya 78% (belum berhasil banyak karena belum mulus bener bentuknya, masih mengsle-mengsle). Saya pakai tepung kurang lebih setengah kilo kayaknya, dapatnya 50-an donat jadi bingung deh gimana ngabisinnya. Akhirnya dibagi-bagi ke tetangga dan keluarga terdekat, tentu tidak lepas dari muqaddimah “Mumun lagi coba-coba belajar bikin donat” hehe biar ga salah paham kalau rasanya belum sesuai lidah mereka. Ada tetangga yang belum dikasi muqaddimah sudah salah paham duluan, “eh kok ada bikin donat? Mumun tunangan ya bu?” kata tetangga sebelah ke ummi’ saya, jiaaahhhhahahah… tepok jidat (sambil mengamini maksud positifnya *eeh).

Hari yang menyenangkan, merasa telah berhasil membuat sesuatu hihihi… mari kita coba membuat yang lain. Di rumah lagi ada banyak pisang, jadilah saya kepikiran membuat Banana Cake.. just try it 😀

Surabaya, 30 Maret 2017

Iklan
Kutipan

MACARONI SCHOTEL (Day 1)

Coba-coba bikin macaroni schotel, resepnya mudah dan cara buatnya juga gampang kayak bikin omelet. Bahan-bahannya : macaroni, sosis, keju quick melt, telur, susu plan, bubuk lada hitam, bubuk merica, garam, oregano, bon cabe. Resepnya ga pakai takaran, semua pakai feeling, pokoknya bagaimana yang sekiranya rasanya akan pas hehehe. Macaroni yang sudah direbus dimasukkan kedalam telur yang sudah di kocok, masukkan juga keju quick melt parut, sosis yang sudah dipotong-potong, susu plan, bubuk lada hitam (ini sesuai selera saja, jika tidak mau pakai juga tidak apa-apa), merica bubuk dan juga garam. Aduk dan masukkan ke aluminum foil atau wadah yang lain juga gpp yang penting bisa dipakai untuk dikukus atau dipanggang.

Macaroni schotel ini saya beri taburan di atasnya, tidak diberi taburan juga tidak apa-apa (disesuaikan dengan selera). Saya beri taburan keju quick melt parut, oregano dan bon cabe level 10. Mungkin ini sedikit kurang tepat, saya memanggangnya di atas cake pan hahaha tapi cukup berhasil loh walau agak gosong bawahnya karena terlalu lama saya panggang. Macaroni schotel juga bisa dikukus, kalau dikukus nampaknya akan lebih aman dari bencana gosong hehe. Dan jadilah macaroni scotel ala-ala saya, dari segi rasa lumayan untuk pemula tapi ya begitu bawahnya gosong. Mmmm..bisa dikatakan tingkat keberhasilannya 52%, jika diibaratkan ulangan sekolah maka mungkin akan dapat nilai 5 hahaha

Well, tidak semua berjalan mulus, yang penting mau mencoba dan mencoba lagi memperbaiki kualitas hasil karya. Dicari-cari mana letak kekurangannya, kesalahannya, diperbaiki agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Akan saya coba lagi lain waktu, semoga bisa lebih sesuai dengan ekspektasi saya. Fun cooking, yang penting bahagia bisa melakukannya bersama keluarga di rumah. Eh hasilnya sempat saya bagikan ke tetangga juga, tentu saja dengan muqaddimah “ini baru belajar, hasil coba-coba jadi belum berhasil 100%” hehe.. let’s try again.

Surabaya, 30 Maret 2017

Kutipan

Happy Long Weekend

          Dua hal yang saya ingin bisa sejak dulu, memasak segala macam makanan termasuk sejenis kue dan menjahit baju (bukan sekedar menjahit tapi membuat). Dua tahun yang lalu saya coba untuk belajar menggunakan mesin jahit, tapi belum juga bisa sampai akhirnya saya jual lagi mesin jahit listrik yang baru saya beli (pada dasarnya karena kurang mau bersabar dalam belajar). Saya rasa setiap orang mungkin bisa menjahit (terutama menjahit dengan manual memakai tangan, seperti menjahit bagian rok/celana yang sedikit robek dsb) tapi orang yang bisa menjahit belum tentu bisa membuat baju. 

Mungkin karena saya belajarnya secara otodidak sehingga belum juga bisa berhasil menggunakan mesin jahit, setiap kali saya mencoba menjahit kain dengan mesin jahit listrik yang saya beli benangnya mesti jadi kacau macet dan mbulet tidak karuan 😀 , akhirnya saya memutuskan untuk sementara saya menyerah dulu belajar menjahit, suatu saat saya akan memulai belajar kembali dengan jiwa yang lebih siap hehe. Setidaknya saya telah berhasil membuat satu karya dalam hal menjahit, yakni sarung bantal hahaha… iya, saya membuat satu sarung bantal dengan kain batik dan menjahitnya manual dengan tangan (rasa-rasanya semua orang bisa hihihi…). 

Dan entah dari mana asalnya, akhir-akhir ini saya ingin mencoba belajar membuat kue. Kalau saya runut-runut pada kejadian masa lampau (halah…), nampaknya berawal dari faniyah halaqoh kurang lebih satu bulan yang lalu, membuat donat. Saya penyuka donat sehingga ketika tiba jadwal faniyah saya mengusulkan untuk membuat donat saja, dan amazing… donat kami berhasil dan tidak sulit-sulit amat membuatnya, walau hasilnya sedikit membuat tertawa geli karena bentuk donatnya tidak rapi, tidak mulus, dan garing mendekati gosong, tapi tetap saja menyenangkan.  Saya ketagihan dan ingin mencoba membuatnya lagi di kampung halaman nanti ketika pulang saat long weekend (lebih tepatnya ingin pamer ke ummi’ saya kalau saya bisa bikin donat hehe).

Long weekend yang dinanti pun akhirnya datang, harpitnas saya ambil cuti sehari, meluangkan waktu untuk keluarga itu perlu dan wajib. Saya berencana di rumah membuat donat, rencana piknik tipis-tipis ke pantai 9 Sumenep di pending dulu untuk sementara waktu, all out di rumah saja untuk orangtua dan keluarga. Dan semalam saya baru menyadari, bahwa memasak bisa membantu saya untuk coret-coret di blog lagi hihihi… walau saya tidak yakin apa iya ada orang yang gemar membaca blog saya haha… So, mari simak tulisan saya berikutnya tentang coba-coba bikin kue hehe..

Sumenep, 27 Maret 2017

 

Kutipan

Nothing Reason (Late Post) 

Terkadang saya heran, ketika saya pulang kampung untuk waktu yang sedikit lama (tidak lama sebenarnya, hanya 5 hari) orang-orang banyak yang menanyakan “kenapa? Ada apa? Kenapa lama sekali?”. Tidak sedikit orang yang menanyakan hal ini ketika saya pulang ke Sumenep pekan lalu. Dan saya hanya bisa menjawab “apa harus ada alasan untuk saya pulang ke kampung halaman saya?”. Saya pulang ya karena ingin pulang, ingin menjenguk dan berkumpul dengan keluarga, just it. 

Pulang ke kampung halaman itu tidak harus menunggu ada hal-hal suka seperti lamaran, atau pernikahan, dsb. Dan pulang ke kampung halaman juga tidak harus menunggu hal-hal duka seperti ada keluarga yang sakit misalnya, meninggal, dsb. saya pulang karena memang sudah saatnya saya meluangkan waktu untuk pulang, menjenguk orang tua, menghabiskan waktu bersama, melayani orang tua, dsb.

Home is where the love is, sebahagia apa dan sesukses apa kita di rantau, jangan lupakan orangtua dan keluarga yang ada di kampung halaman. Jangan berikan sisa waktu, tapi luangkan waktu. Kita tidak akan sebesar ini jika tidak ada orang tua dan keluarga. Harus selalu ingat pada asal muasal, dan percayalah salah satu obat rindu adalah pertemuan. Jangan siksa orang tua dan keluarga kita dengan rindu yang tidak berkesudahan. Bukan mudah menahan rindu itu, apalagi rindu orang tua pada anaknya. 

Surabaya, 19 November 2016 

​SPEKULASI TENTANG RASA (LISAN 2)


Kelanjutan dari post sebelumnya, kali ini tentang spekulasi rasa. Akan lebih baik kita hindari, berspekulasi tentang rasa. Menjudge tentang perasaan orang lain. Semisal ketika seorang Fulan berkata didepan umum “si Fulanah ini memang maunya menikah dengan fulan ini, tapi Fulannya tidak mau, emoh..emoh.. jare si Fulan”. Atau kalimat-kalimat “Fulanah suka sama si Fulan”. Tidak baik hal seperti ini dilisankan apalagi di hadapan banyak orang, bisa menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik dan dapat melukai hati yang bersangkutan. Jangan berspekulasi tentang rasa karena rasa adalah perkara hati, hanya pemiliknya yang tahu,  dan kita bahkan tidak berhak untuk sekedar memikirkannya. Siapa kita yang berani meraba-raba dan kemudian membeberkan isi hati orang lain. 

Hal lain juga yang tidak jarang saya temui adalah perkara bully-membully orang yang belum menikah. Bahkan tidak jarang ada orang yang menjudge saudaranya sebagai pribadi “pilih-pilih”, “halah palingan kamu yang pilih-pilih makanya tidak nikah-nikah.” maashaAllah. “kamu sih ga mau berusaha…”, “ih kamu keduluan lagi loh…”, “makanya jangan karir melulu yang diurusin…”, “kuliahnya ketinggian sih…” dsb. Mungkin kita berniat bercanda, berniat memotivasi dsb, tapi siapa yang dapat menjamin bahwa kalimat-kalimat kita tidak melukai hati mereka? Bahasa teman saya “mereka itu sibuk memperolok kita yang belum menikah, memangnya mereka sudah sempurna mengurus rumah tangga mereka?”.

Menikah bukan lomba lari yang bab nya adalah siapa yang paling duluan sampai. Siapa yang tahu bahwa barangkali sudara kita tersebut telah berusaha semaksimal yang dia bisa hanya saja Allah belum menghendaki? Siapa yang tahu bahwa barangkali saudara kita tersebut memang memiliki kesulitan yang lain sehingga belum bisa ke arah menyempurnakan separuh agama? Bertanya “kapan menikah” boleh tapi jangan sampai menjadi dengung nyamuk yang bunyinya sangat mengganggu kenyamanan orang tidur, apalagi jika ditambahi dengan spekulasi-spekulasi yang tidak baik. Dari segala permasalahan, yang dibutuhkan adalah solusi solutif, bukan kalimat yang semakin mengusutkan benang kusut. 

Sebagaimana Al.Bukhari dalam kitab Shahihnya No. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya No. 74 meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam mitab Shahihnya hadist No. 10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi saw bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Surabaya, 5 Januari 2017

CLBK KARENA HADIAH

        Saat kita merasa hubungan kita dengan teman, saudara, keluarga, tetangga, rekan kantor dsb sedang dalam titik nyaris saling membelakangi, tidak akur, tidak sehangat biasanya dsb, cobalah untuk saling memberi hadiah. Sebagaimana Rasulullah saw pernah bersabda : “Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari). 

Saya sudah pernah mencobanya, dengan teman kos. Biasanya kami sering ngobrol bareng dan kebanyakan ngobrolnya tentang buku dan toko buku, hang out bareng dsb. Namun belakangan ini hubungan kami sedikit renggang, entah karena kesibukan kami yang sangat menyita waktu, pulang dalam kondisi lelah yang pada akhirnya kurang memungkinkan untuk beramah tamah sekedar say hello atau memang karena iman kami yang menurun (terlebih saya) sehingga kurang bisa memperlakukan satu sama lain dengan hangat dan ramah penuh kasih sayang. 

Saya merenung dan kemudian mengingat tentang hadist di atas, akhirnya saya inisiatif mengambil beberapa cemilan yang saya miliki lalu saya ketuk pintu kamarnya dan saya berikan cemilan saya itu padanya. Dan benar saja, wajah kami pun saling sumringah, saling tersenyum hangat dan suasana pun kembali hidup seperti sebelum-sebelumnya.  Jadi, jika saat ini diantara kita ada yang sedang dalam posisi semacam di atas, segeralah membeli hadiah dan cobalah berikan padanya dengan tulus, tidak harus hadiah mahal yang terpenting adalah ketulusan, inshaaAllah hati-hati kita dengan saudara-saudara kita akan kembali tersambung dengan baik dan penuh kasih sayang. Semacam Cinta Lama Bersemi Kembali 😀

Surabaya, 5 Januari 2016

​SETAJAM SILET (LISAN 1)


Ada hal-hal yang boleh dibercandakan, namun ada juga hal-hal yang tidak baik untuk dibercandakan. Ketika seseorang yang kita kenal nampak selalu easy going dalam perkara obrolan atau bercandaan apapun bukan berarti dia akan selalu baik-baik saja dengan kalimat-kalimat bercanda yang di lontarkan. Bagaimanapun setiap manusia adalah manusia, memiliki hati dan akan ada masa dimana hatinya bisa saja terluka dengan kalimat-kalimat bercanda kita. Bisa membuatnya jadi patah semangat, menjadi lebih tidak percaya diri, dan hal-hal negatif lainnya dikarenakan kalimat yang keluar dari lisan kita, who knows? pun itu hanya berniat bercanda.

Bercanda yang berkaitan dengan fisik seseoarng adalah salah satu bercanda yang akan lebih baik jika dihindari. Salah satu contoh, saya pernah menemukan hal seperti ini, ketika seorang Fulan yang satu bercanda kepada Fulan yang satunya di depan seorang Fulanah berkata “Fulan, ini loh Fulanah berkenan jadi madu-mu (ciri khas topik bercandaan para om-om, tentang poligami)”, lantas di Fulan menjawab “wah kalau model-nya begini mah saya gak mau pak poligami pak”. Di lain waktu saya menemukan lagi, beberapa orang yang sedang rombongan rihlah, salah satu Fulanah berkata “karena tadi kita terburu-buru saya jadi belum sempat mandi.” lantas salah satu Fulan menyahut “memangnya ada bedanya kamu mandi atau tidak?”. Atau contoh lagi ketika seorang fulan berkata kepada fulanah dihadapan banyak orang “secara fisik kamu itu pantas jadi satpam”. Orang-orang yang tipe “tidak enakan” akan bersikap seolah-olah easy going saja, padahal bisa jadi hatinya terluka hanya saja dia menyimpan untuk dirinya sendiri.

Bisa jadi kalimat-kalimat di atas tidak dimaksudkan serius (atau bisa jadi juga memang serius) namun akan lebih baik jika bercandaan seperti itu dihindari. Siapa yang tahu kalimat kita yang mana yang akan melukai hati saudara kita yang bahkan bisa jadi akan membekas lama dihatinya. Ibarat paku yang ditancapkan pada sebatang pohon, ketika dicabut maka akan meninggalkan bekas. Begitu juga mempercandakan nasab seseorang, sungguh tidak ahsan. Sekali lagi pun itu hanya untuk bercanda, akan lebih baik diganti dengan kalimat-kalimat positif yang dapat menginspirasi pendengarnya. Apalagi jika pelakunya adalah orang-orang yang sebenarnya sudah faham mana yang baik dan mana yang sebenarnya tidak baik, to the point nya adalah orang-orang “ngaji”. Benar-benar harus pandai memilah mana yang baik untuk dikatakan dan mana yang kurang baik untuk dikatakan.

Ini juga, note to my self, tentang pribadi-pribadi yang suka nyinyir dengan keberhasilan orang lain, membicarakan keburukan-keburukan saudaranya kepada yang lain, sikap sinis, mencari-cari celah keburukan orang lain dan membeberkannya pada siapapun yang dia temui, dapat dipastikan jika yang mendengar adalah orang yang baik hatinya akan merasakan panas ditelinga dan tidak betah untuk berlama-lama berada di dekat orang dengan kepribadian seperti itu. Jika kita menemukan orang yang suka membicarakan keburukan oranglain kepada kita, jangan berteman dekat dengannya, karena bukan tidak mungkin ada masanya dia akan membicarakan keburukan kita didepan orang lain.

Saya mengenal seorang shalihah, berpenampilan syar’i, tidak pernah lepas qiyamul lail, tilawah al.qur’an, puasa senin-kamis, dzikir harian, namun disamping itu juga suka nyinyir dengan kesuksesan orang lain. Ada saja keburukan saudaranya yang dia ceritakan pada orang lain. Ketika seorang fulanah menikah, dia menyeracau “suaminya itu loh mbak gini gini gini gini, prosesnya itu loh mbak gini gini gini gini…”. Ketika seorang fulan dipindah ke tempat baru dengan jabatan yang bisa dikatakan lebih baik dia menyeracau “fulan ini loh mbak gini gini gini… dia bermasalah dengan istrinya gini gini gini… dia dapat uang mutasi tapi dia gini gini gini”, hhhhh… buang Hayati ke rawa-rawa bang. (Terkait seorang shalihah ini, jangan digeneralisir yaa, dari kisah di atas bukan berarti semua sama seperti ini, ini kebetulan saja ada, semoga Allah senanatiasa memberikan hidayah kepadanya, kepada saya dan kepada kita semua)

Untuk apa kita mengurusi perkara-perkara oranglain yang kita tidak berhak mengurusinya, biarkan itu urusan dia, tidak akan ada untungnya kita membicarakan kekurangan-kekurangan orang lain. Menuliskan hal ini bukan berarti saya sudah menjadi pribadi yang baik, saya-pun sedang dalam proses memperbaiki diri. Segala hal diatas menjadi refleksi pribadi juga untuk saya, agar lebih berhati-hati dalam berkalimat. Semoga Allah mengampuni saya atas lisan-lisan yang tidak terjaga. 

Surabaya, 5 Januari 2017