– Mental Illness –

Pada umumnya anak-anak ketika diberi kue akan merasa senang dan menerimanya dengan rasa penuh bahagia, kali ini berbeda. Anak lelaki berusia kurang lebih 10-11 tahun tertawa-tawa sendiri di stasiun kereta api Belimbing, Malang. Tidak beralas kaki, dia memasuki stasiun yang sepi itu, hanya ada aku dan seorang satpam juga penjaga loket penjualan tiket kereta. Dia duduk dan kemudian berkata-kata dengan setengah berteriak, seolah ingin mendengarkan suaranya yang memantul kembali dari tembok-tembok stasiun. Sesekali dia tertawa-tawa, awal mulanya aku kira dia anak jalanan seperti biasanya.
Ku keluarkan kotak kecil berisi satu bungkus kue yang belum ku makan sejak perjalanan dari Surabaya. “Kalau ku berikan hanya berisi satu kue begini kok ya gimana…” pikirku dalam hati. Aku pun beranjak mendekati warung kecil, membeli air mineral gelas dan sebungkus keripik tempe untuk melengkapi kotak berisi kue tadi, ku masukkan dan ku rapikan, “akan ku berikan padanya…” pikirku.

 Dia berada di luar stasiun setelah di usir pak satpam gara-gara berteriak-teriak tidak karuan. Lonceng stasiun berbunyi tanda bahwa akan ada kereta lewat, pak Satpam segera keluar dan menjaga pagar luar seolah khawatir jika anak laki-laki tadi nekat meloncati pagar stasiun dan kemudian loncat ke tengah rel kereta, perkiraanku begitu. Melihat pak Satpam menjaga di pagar samping stasiun, anak lelaki itu bergegas berlari menuju pintu utama stasiun, di berdiri di depan pagar dan kemudian loncat-loncat sambil berteriak girang melihat kereta api itu lewat. “Syukurlah dia tidak loncat pagar dan berlari ke tengah rel kereta seperti perkiraanku tadi… ah konyol juga khayalanku, tapi kan bisa saja, mengingat dia labil ga jelas begitu…” bisikku berbicara pada diriku sendiri.

Dia berjalan di depanku, langsung ku sodorkan kotak berisi kue lengkap dengan air mineral dan kripik tempe, dan kau tahu apa yang terjadi? Dia menghardik-ku “hah!” katanya dan berlalu begitu saja masuk kembali ke dalam stasiun. Aku kaget, “hhhh… setidaknya dia tidak melemparku dengan kotak kue itu…” pikirku.  Anak lelaki itu kembali duduk dan berteriak-teriak seperti tadi, tertawa-tawa sendiri. Aku mulai mengabaikannya, “ya sudah kalau tidak mau…” kataku dalam hati, lagi-lagi bicara dengan diriku sendiri. Resah menunggu teman yang tak kunjung datang, aku mulai mengingat masa-masa lalu selama di Malang, mengingat hal-hal lucu yang pernah terjadi di kota dingin itu, dan segala hal lainnya. Aku mulai mengambil buku catatan dan mulai menulis. Anak lelaki tadi tetiba duduk di depanku, “Hmmmm… mulai mencari perhatianku dia…” bisikku dalam hati (ge-er kali ya hahaha). Masih duduk tidak jauh dari hadapanku, dia berbicara-bicara sendiri entah bicara apa, lalu tetiba aku mendengar dia berkata “jangan sedih…”. Hegh… -_-‘, apa aku yang salah dengar, atau memang dia yang merasakan bahwa aku sedang sedih saat itu. ah entahlah… aku memilih mengacuhkannya, walau dalam hati aku memikirkan anak itu, berpikir bagaimana dia bisa menjadi seperti itu dalam usia masih kecil. 

Tidak lama kemudian dia beranjak menjauh ke dalam stasiun, tertawa-tawa kembali. Terdengar suaranya kembali berteriak-teriak tidak jelas, lantas kembali duduk di dekatku. Kali ini bukan di depanku, tapi di sampingku. “Hmmmm… benar-benar dia mulai mencari perhatianku, apa dia mulai ingin kue itu ya? Kenapa tadi dia tidak mau? Apa mungkin tadi dia berpikir aku ngerjain dia dengan kerdus kosong?” bisikku dalam hati. Aku mengambil kesempatan itu, mumpung dia duduk tidak jauh di sampingku, aku buka kerdusnya dan aku perlihatkan isinya, aku sodorkan padanya, tapi dia kembali menolak, kali ini dengan cara lebih baik dari tadi. “Nggak mau…” katanya. Hmmmm… “dia laki-laki, mungkin dia punya harga diri yang besar sehingga tidak mau begitu saja menerima pemberian orang lain, dia tidak ingin dikasihani. Atau mungkin dia trauma dengan makanan pemberian orang?” aku mulai mereka-reka. Pada akhirnya aku menyerah, dia masih duduk tidak jauh dariku. Aku kembali menulis-nulis di buku catatatn. Tetiba aku mendengar dia berkata “terima kasih…”, lalu kembali tertawa-tawa sendiri dan berbicara sendiri. Kata ibu penjaga warung, anak itu sakit jiwa. 

Aku tidak tega memikirkannya, bagaimana bisa dia menjadi seperti itu. dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memikirkannya saja. Hingga temanku datang menjemput, kue itu aku bawa pergi dan ku berikan pada temanku. “hhhh… harusnya kue ini ku tinggal saja di kursi stasiun tadi, kali saja nanti dia mau mengambilnya. Barangkali sebenarnya dia ingin, tapi dia takut, atau tapi dia gengsi…” dan atau-atau lainnya, bertebaran di pikiran. 

Surabaya, 17 Oktober 2016

Kutipan

Sambal Goreng Tempe

PhotoGrid_1471243845474

Siang hari di sebuah kota kecil yang penuh damai, nampak gadis kecil berseragam merah putih baru pulang sekolah, duduk manis di atas becak langganan yang memang sudah biasa dikontrak untuk antar jemput anak sekolah SD. Sampai di Kampung Arab si gadis kecil turun dari becak dan berlari riang menuju rumah kontrakan kecil di pinggir jalan.

Rumah kontrakan itu memanjang ke belakang. Di terasnya terdapat taman kecil sekali memanjang berukuran kurang lebih 1,5 meter kali 0,5 meter berisi tanaman sirih (mendominasi), bunga melati, lidah buaya, dsb. Di depan taman ada selokan memanjang kanan-kiri membatasi rumah kontrakan itu dengan jalan trotoar. Lurus ke belakang rumah itu berisi ruang tamu, ruang tv dan kamar tidur orang tua, kamar tidur anak, dapur dan kamar mandi. Karena tipenya memanjang, pandangan dari jendela ruang tamu bisa sampai menembus ke dapur.

Si gadis kecil melihat ke dalam rumah dari balik jendela ruang tamu, di kejauhan sudut belakang rumah nampak tangan ummi’nya sedang menggoreng sesuatu. Dia tersenyum nakal, “ummiiii’… assalamu’alaykuum” teriaknya dan bergegas bersembunyi di balik pintu. Dapat dirasakan bahwa ummi’nya akan melongo ke jendela dan kembali memasak ketika menyadari tidak ada orang di balik jendela. Si gadis kecil kembali berteriak “ummiiii’…. assalamu’alaykuum..” dan bergegas bersembunyi kembali di balik pintu sambil tertawa-tawa kecil, merasa senang ngerjain ummi’nya. Begitu berulangkali hingga akhirnya pintu rumahpun di bukakan dan si gadis kecil cengengesan “hehehe… ummi’, assalamu’alaykum…”, ujar si gadis kecil mengambil tangan si ummi’ dan menciumnya. Si ummi’ pun tersenyum “wa’alaykumussalam, kamu ini ya ngerjain ummi’ terus..”. “…ummi’ sedang masak apa tadi aku lihat tangan ummi’ lagi goreng-goreng” ujar si gadis kecil dengan wajah berbinar. “Ummi’ masak sambal goreng tempe kesukaan kamu…” kata si ummi’.

Masih dengan seragam merah putih, si gadis kecil berlari ke dapur mengambil sutil dan mengaduk-ngaduk sambal goreng tempe yang masih berada di atas api kompor. “Ummi’ aku cicipi yaaa…” si gadis kecil mengambil beberapa potong tempe kecil-kecil itu dibagian yang banyak bumbunya dan mencicipinya. “Enak ummi’….” serunya dengan mata berbinar. Dalam keluarga si gadis kecil pada masa itu sambal goreng tempe merupakan lauk mewah yang sangat dinanti.

Sambal goreng tempe penuh cinta dan bayangan tangan sedang menggoreng sesuatu yang nampak dari jendela ruang tamu itu sangat membekas di hati si gadis kecil berseragam merah putih. Setiap kali ummi’nya memasak dia akan selalu memperhatikan, seberapa potongan tempenya, seberapa matang tempe itu terlebih dahulu di goreng, bumbunya apa saja, bagaimana menguleknya, bagaimana mengiris bawang daunnya, menggoreng bawang daunnya hingga harum, memasukkan bumbunya ke wajan yang berisi bawang daun sedang di goreng tadi, bahkan hingga step cobek di beri air di bersihkan sisa bumbunya dengan penguleknya lalu di masukkan air itu ke dalam wajan berisi bumbu tadi. “Masih ada bumbu tersisa di pinggir-pinggir ini, sayang kan…” ujar si ummi’ saat menuang air ke cobek.

Hingga beranjak dewasa, sambal goreng tempe itu tetap membekas di hatinya, setiap kali memasaknya tidak pernah luput dari step-step yang diajarkan ummi’nya, bahkan hingga step cobek di kasi air dan step incip-incip dimana bagian yang di incip adalah bagian yang banyak bumbunya😀. Dan bayangan tangan sedang memasak yang nampak dari balik jendela ruang tamu itu juga tidak pernah hilang dari ingatannya, rutinitas yang selalu dia lihat dari balik jendela setiap pulang sekolah.

Itulah, jawaban dari “kenapa harus sambal goreng tempe?”

 

Surabaya, 15 Agustus 2016

dear ummi’, with love

Kutipan

Ada ga ya…

IMG_20160623_192539

Lama ga buka-buka blog, lama ga diisi juga, tetiba berpikir, ada ga ya yang kangen bin rindu sama blog dan tulisan saya😀. Ada ga ya… eh kamu rindu ga sama tulisan dan blog saya ini?? Kamu..! Iya kamu!😀

Jangan-jangan ini menjadi Blog yang tak dirindukan😀, tapi ga apalah… tujuan adanya blog ini juga bukan agar pembacanya terserang penyakit malarindu tropikangen hehe…

Eh iya ya, apa ya tujuan kita bikin blog dan nulis? Saya tetiba memikirkannya😀

Kutipan

Ibuk, Iwan Setyawan

14624906

Sebenarnya ini -bisa dikatakan- buku lama, dia terbit tahun 2012 dan saya sempat melihat poster besar-nya di salah satu toko buku besar di Surabaya, saya sempat melirik dan penasaran tapi belum terketuk untuk membeli dan membacanya. Jadi, bisa dikatakan saya ketinggalan zaman baru membaca dan mereview nya sekarang😄. Pada akhirnya saya tertarik membelinya setelah saya membaca buku karya Iwan Setyawan yang berjudul 9 Summers 10 Autumns. Sama dengan buku Ibuk, saya juga telah lama mengetahui buku 9 Summers 10 Autumns ini booming dan nampaknya isinya cukup menginspirasi tapi saya belum tergerak untuk membelinya.

Hingga awal tahun 2016 saya iseng membeli buku 9 Summers 10 Autumns, iseng saja bukan karena tergerak, “coba beli deh, kali aja menginpirasi”, dan ternyata benar isinya menginspirasi walaupun saya sedikit kurang suka dengan kemasan -Iwan dan anak kecil bersegaram merah putih- tapi isinya cukup menginpirasi dan saya mulai penasaran dengan karya Iwan lainnya. Saya berikan buku 9 Summers 10 Autumns ini pada salah satu anak asuh saya yang sedang berjuang menggapai mimpinya dalam kesederhanaan. Saya berharap buku ini bisa menyemangati dia untuk tetap bertahan. Saya ke toko buku dan kembali membeli buku 9 Summers 10 Autumns untuk koleksi saya pribadi serta coba membeli karya Iwan Setyawan yang berjudul “Ibuk”.

Saya membeli buku ‘Ibuk” bulan Februari yang lalu dan baru kemarin mulai membacanya😀, dan ternyata… aaarrrgghhh… buku ini amazing sekali, bahkan lebih amazing dari buku sebelumnya. Karena buku ini berisi “akar sebelum pohon tumbuh”. Semacam “dibalik layar” sebelum akhirnya Iwan menjadi orang yang sukses. Saya lebih suka part ini, karena ini bukan hal yang mudah, panjang dan menitinya sangat membutuhkan kesabaran. Review dari beberapa pembaca buku ini memang ada yang menyatakan sangat suka bagian awal hingga tengah buku, tapi kemudian feelnya jadi berubah ketika di tengah cerita fokusnya beralih dari Ibuk ke Bayek, ini memang sedikit kurang pas, namun bagaimana-pun setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing apalagi Iwan Setyawan -bisa dikatakan- adalah pemula sebagai penulis dan ini buku ketiganya, hitungannya sudah luar biasa seorang Iwan Setyawan penulis pemula yang hidupnya dipenuhi dengan data statistika bisa menulis buku yang mengalir dan menginpirasi seperti ini bahkan mendapat penghargaan. InshaaAllah pasti seorang Iwan Setyawan akan mengambil review para pembaca-nya sebagai kritik dan saran yang membangun untuk kemudian bisa berkarya jauh lebih baik lagi.

Saya sangat suka sekali cerita tokoh Ibuk dan Bapak yang telah benar-benar berjuang dari nol ini, benar-benar sangat menginpirasi dan endingnya sangat menguras air mata saya ketika bapak yang gagah dan hebat itu meninggal dunia. Alhamdulillah, beliau meninggal dalam keadaan “semuanya” telah “selesai”, tidak meninggalkan keluarga dalam keadaan kekurangan, inshaaAllah beliau pergi-nya juga dalam keadaan lega dan tenang -Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu-

Alur cerita Ibuk, Bapak, Isa, dst ini membuat saya ingin seketika juga meloncat ke Batu dan melihat langsung rumah kecil di gang buntu itu, ibuk dengan daster itu, dapur dengan kepulan asap itu, Nani dengan sepatunya yang jebol itu, angkot tua itu, bapak playboy itu, Bayek dan Rini ketika meminta jatah uang jajan ke mbah Mun, aahhhh… saya ingin meloncat dan melihat langsung semua alur kisah itu. Alhamdulillah buku ini menginspirasi, inhsaaAllah kebaikannya akan terus mengalir, saya jadi ingin membelikan anak-anak asuh saya buku ini hehe😀

Semoga Iwan Setyawan istiqomah berkarya dalam tulisan-tulisan inspiratif lainnya, akan menarik jika Iwan bisa menulis buku yang tokoh utamanya bapak hebat itu. Kami tunggu karya-karya inspiratif Iwan lainnya ^o^. Berikut sedikit ulasan buku ‘Ibuk’ yang saya ambil dari http://www.goodreads.com. Yang belum baca buku Ibuk, bacalah… bagus inshaaAllah ^-^

Surabaya, 16 April 2016

 

“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”
-Ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di pasar Batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar yang berambut selalu klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, mereka pun menjadi Ibuk dan Bapak.

Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan, yang memberi nafas bagi kehidupan. (less)

Paperback, 291 pages
Published June 2012 by Gramedia Pustaka Utama

 

Kutipan

Hati, Qalbu, Heart

photo_2016-03-10_09-43-42

Pernah didera perasaan galau, gelisah, sedih, tak punya semangat hidup dan berbagai pikiran negatif lainnya yang ujung-ujungnya membuat hidup tak bahagia?

Ironisnya, banyak orang Islam yang merasakan hal ini, padahal teorinya seorang muslimah yang telah bertauhid “Laa ilaaha illallaah” dan mengakui Muhammad Shallallaahu ’alaihi wa Sallam sebagai utusan Allah dan tak hanya sekedar ucapan tapi juga memahami makna serta aplikasinya pasti akan bahagia.

Realitanya manusia banyak yang menganggap dirinya kurang bahagia, padahal salah satu indikasi calon penghuni surga adalah orang yang semasa hidup di dunia mampu meraih kebahagiaan!

Apa yang kurang ?…… Dia telah membaca beratus-ratus buku, bertahun-tahun hadir di majlis ilmu, bahkan tinggal dan bergaul dengan orang-orang yang shalih.

Kadang orang menilai terlalu berlebihan ketika melihat sosok muslimah yang selalu menutup auratnya, rajin ibadah, kata-katanya manis dan memukau di depan orang lain serta tampilan-tampilan luar yang membuat orang lain kagum, simpatik dan memandangnya sebagai sosok hebat tanpa cela.

Padahal semua opini di atas belum menjamin orang yang bersangkutan mampu merasakan oase kebahagiaan sejati. Satu hal yang kadang terlupa yaitu faktorhati, karena ketika hati seorang itu baik dan benar ia pasti akan bahagia.

Hati Sebening Kaca

Dalam hadits dikatakan,

أَلاوإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ

“ Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. ( HR. Bukhari Muslim ).

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan:

فداو قلبك فإن حاجة الله إلى عباده صلاح قلوبهم

“Obatilah hatimu, sebab tuntutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah kebaikan hati mereka!”. (Hilyatul Auliyaa’, II / 176 . No. 1832).

Sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ اللَّهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“ Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan hartaharta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian dan amal kalian”. (HR. Muslim, Ahmad, IbnuMajah).

Hati dalam diri seorang mukmin memiliki kedudukan dan peranan penting, karena dihati itulah bersemayamnya keimanan kepada Allah dan tempatnya segala keikhlasan dalam beribadah. Di hati juga berseminya berbagai perasaan cinta, takut dan harap, berserah diri seutuhnya pada Allah ‘Azza wa Jalla.Hingga ada do’a spesial agar kita memiliki hati yang lurus.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“ Ya Allah, yang membolak – balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu(HR At Tirmidzi, ia berkata, ‘Hadits Hasan’).

Nutrisi Dan Gizi Hati

Hati yang selembut kaca akan bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara ketaatan dengan kemaksiatan. Orang yang memilki hati yang selamat atau qolbunsalim dia akan punya mata hati yang tajam, peka dan sensitif ketika aneka racun virus penyakit mulai masuk dan menimbulkan noktah dosa.

Namun disaat hati keruh dan tak sebening kaca ia akan memandang dosa dan kedurhakaan dengan sudut pandang hawa nafsu yang cenderung pada kesesatan. Dengan kondisi itu sangat mungkin hati tak lagi sehat bahkan jika dibiarkan maka hati bisa dalam kondisi kritis dan mati. Ketika keadaannya telah parah maka perlu terapi terus menerus dengan mensucikannya dari penyakit dan memberinya nutrisi dan gizi yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadits Shahih.

Musibah penyakit hati bisa menimpa siapa saja ketika ia tak mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan berbuat syirik. Setan terlalu berpengalaman dan memilki banyak cara untuk menggoda manusia. Dan perangkapnya sangat canggih, ia menyusup dalam diri manusia melewati aliran darah.

Ibnul Qoyyim berkata, “ Carilah hatimu di tiga tempat : (1). Ketika mendengarkan Al-Qur’an. ( 2) Di majlis dzikir ( yang didalamnya diajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. ( 3) Diwaktu- waktu engkau menyendiri ( bermunajat kepada Alloh ). Jika engkau tidak dapati hatimu ditempat- tempat ini, maka mohonlah kepada Allah‘Azza wa Jalla agar menganugerahkan “ hati “ karena sesungguhnya engkau tidak punya “hati”. ( Fawaa’idul Fawaa’id , hal : 479).

Hati yang sehat dan selamat akan selalu membutuhkan nutrisi dan gizi agar selalu terjaga dan terawat sehingga menjadi hati yang lembut, selembut salju.

***

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Murojaah: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Artikel http://www.muslimah.or.id

Kutipan

Rumah yang Kosong

photo_2016-03-10_09-06-22

Sesungguhnya seseorang yang satu hari ia tidak membaca Al.Qur’an, sungguh hatinya ‘kalbaitil khorbi’ seperti rumah yang kosong. (HR. Tirmidzi)

 

Kutipan

CERITA yang BAIK

h.jpg

Saya menyadari hal ini semalam, bahwa lembaran kertas seberkualitas ini hanya pantas untuk menampung cerita-cerita yang baik. Sebenarnya selama ini saya telah ragu untuk memenuhi lembarannya dengan segala warna hidup saya, saya khawatir warna saya kurang indah untuk dilukiskan disana, karenanya saya hanya menyimpannya di dalam lemari terjejer bersama kumpulan buku lainnya. Dia terlalu berkualitas untuk sekedar menampung celotehan saya, pun dari awal saya membelinya karena salah satu senior inspiratif saya datang ke Surabaya dan saya berharap mendapatkan petuah-petuah yang baik dan menyimpannya di lembaran kertas terbaik.

dan, mulailah lembaran pertamanya dengan uraian petuah dan nasehat penuh makna dari senior sekaligus guru dan teman dalam sepetak kamar rumah kontrakan ketika saya masih berstatus mahasiswi 8 tahun yang lalu. Lembaran keduanya berisi kebahagiaan akan ikhtiar besar bersama anak didik di Surabaya untuk memenangkan sebuah perlombaan seni tingkat Asia. Lembaran ketiga terisi selipan doa dengan penuh harap kepada Rabb… Ar.Rahman. Hingga lembaran keempat berisi rindu pada satu-satunya lelaki yang tersimpan di hati saya yang biasa orang sebut “ayah”, dan lembaran kelima berisi ikhtiar dari doa yang terselip pada lembaran sebelumnya. Sampai pada lembaran ke enam berisi jawaban dari doa dan ikhtiar dari lembaran sebelumnya, dan hingga lembaran ketujuh… saya terhenti. Banyak hal yang bisa dan ingin dituliskan, tapi kemudian saya menyadari, lembaran sebaik ini tidak seharusnya menampung hal yang tidak berkualitas.

Urung, mengingat kualitasnya yang baik serta niat pembuatnya dan makna dari namanya, saya menyadari bahwa yang baik hanya untuk yang baik-baik. Jika yang dilukiskan adalah warna yang kurang baik, maka hanya akan membuat lembarannya menjadi lembaran yang kurang beruntung. Baiknya saya benahi dulu komposisinya, karena teko hanya akan mengeluarkan apa yang berada didalamnya.

Hhhhhhh… entahlah, ini pikiran kacau saya😀

 

Surabaya, 16 Februari 2016