Kutipan

Buah Hati

Pagi menjelang siang, aku yang tenggelam dalam lamunan dikagetkan oleh bunyi klakson yang begitu nyaring. “Woy, minggirrr!! Dasar emak-emak!!” teriak supir angkot. Perjalanan pulang ke rumah tidak ku lanjutkan, dalam kondisi seperti ini aku tidak ingin berada di rumah yang sunyi senyap itu. Aku memilih mampir ke taman kota, duduk termenung di bawah pohon, menyaksikan anak-anak muda bermain skateboard.

Aku berusaha untuk melupakan apa yang baru saja aku dengar, namun tetap saja, kalimat pak Suroso terngiang di kepalaku.

“…daripada kamu menunggu lama, menikah lagi saja.” kata pak Suroso pada mas Galih.

Aku yang saat itu baru saja tiba tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dan bergegas pergi, tidak ingin membuat mereka merasa tidak nyaman karena mengetahui keberadaanku.

Malam berlalu, menjelang subuh masih dengan balutan mukena aku menghampiri mas Galih yang masih tidur di kamar. Perlahan aku duduk di sisi ranjang, mengamati wajah teduh penuh humoris yang telah 17 tahun lamanya membersamaiku menjalani hari-hari.

Air mataku tak terbendung, segala kenangan dari awal menikah dengannya bertebaran diingatan. “Aku begitu mencintai pria ini.” bisikku dalam hati. Aku berharap sekali bisa membahagiakannya dengan memberi buah hati, namun Tuhan belum mengizinkanku mengemban amanah menjadi seorang ibu.

********

“Mas … ” kataku pelan saat menemaninya sarapan roti bakar dan secangkir kopi. “Hmmm … ?” jawab mas Galih. “Aku mengizinkan mas Galih mendua, sudah 17 tahun lamanya mas Galih menunggu buah hati namun belum juga bisa aku berikan,” kataku sambil terisak. Aku tidak berani menatap mas Galih, wajahku tertunduk tenggelam dalam tangis.

“Baiklah kalau begitu … ” jawab mas Galih.

Aku tersentak, seketika wajahku terangkat dan menatapnya. Aku tidak menyangka mas Galih akan menjawab semudah itu, aku kira dia akan menolak dan mencoba menghiburku sebagaimana kebanyakan cerita, namun ternyata ekspektasiku salah.

Aku kembali tertunduk, “Kok nangisnya tambah kenceng? Jadi sebenarnya kamu ngizinin aku atau nggak?” tanya mas Galih. “Iya, aku izinkan … ” jawabku masih dengan tangis.

Sepertiga malam, aku kembali menangis dalam sujud dalamku. Memohon kelapangan hati kepada Sang Pemilik hati, hari ini mas Galih akan membawaku ke rumah perempuan yang akan dipinangnya.

********

Aku merasa sesak, entah sesak karena pengapnya ruang tamu itu atau karena aku akan bertemu perempuan kedua pilihan mas Galih. Ibu tua yang masuk ke dalam untuk memanggil perempuan itu keluar sambil menggendong bayi.

“Ini perempuan yang akan aku pinang, menjadi anak kita, bagaimana?” ujar mas Galih. Seketika aku memukul dada bidangnya, “mas Galiiiiihhhhh…” kataku sambil menangis kesal. Mas Galih memelukku sambil tertawa dan berkata, “Kamu itu, apa kamu pikir akan semudah itu aku menduakanmu. Sudah jangan nangis, itu si nenek bingung nah ngelihatin kita.”

Aku mengusap air mata, melihat bayi yang ada dalam gendongan ibu tua itu. “Anak ini yatim piatu, ayah ibunya meninggal karena kecelakaan sebulan yang lalu, neneknya sendirian tidak bisa merawatnya, bagaimana? Kamu berkenan?” tanya mas Galih padaku.

Aku menatap bayi mungil yang kini berada dalam gendonganku itu, air mataku tak tertahan. Tuhan memberiku anugerah terindah berupa suami yang sangat mencintaiku, aku ingin mensyukurinya dengan merawat anak ini. “Iya mas, aku berkenan, kita rawat bayi ini ya … ” kataku berbinar menatap mas Galih.

-The End-

Fiksi Mini by. Ceu Moon

Iklan
Kutipan

Cinta Di Ujung Senja

Malam semakin terasa dingin, suara debur ombak laut terdengar menyatu dengan alunan lagu Always Somewhere milik Scorpions dari sound resto pinggir pantai itu. Renata tertunduk dihadapan Yoga, menggenggam erat buku Siluet Senja dalam pangkuannya.

“Maafkan aku mas … “ ucap Renata pelan sambil menitikkan air mata.
“Aku ga bisa Re!” tegas Yoga.

Tiga tahun lamanya Renata menjalin hubungan dengan Yoga, tidak pernah terlintas dipikirannya akan meminta untuk memutuskan hubungan itu. Entah bagaimana buku Siluet Senja itu membuatnya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, Renata merasa selama ini jalan hidupnya telah salah.

“Aku ingin hijrah mas, aku ingin berubah. Tidak seharusnya kita berpacaran seperti ini, aku juga mau berhenti jadi model,” ucap Renata dengan linangan air mata menatap kekasihnya.

“Aku ga bisa Re! Aku ga mau putus sama kamu, kita sudah 3 tahun pacaran. Kamu tahu kan seberapa besar aku mencintai kamu. Keluarga kita sudah dekat dan saling mengenal satu sama lain, mama juga sudah terlanjur suka dan sayang sama kamu.” Yoga menatap Renata lekat.

“Tapi mas … “ Belum selesai kalimat Renata, Yoga beranjak dan bergegas pergi tanpa berkata apa-apa.

Renata menatap buku Siluet Senja dalam genggamannya, buku itu dia dapatkan di dalam laci bangku sekolah bersamaan dengan surat yang dikirim entah oleh siapa. Sebulan lamanya Renata mendapatkan surat tanpa nama yang berisi nasehat-nasehat keislaman.

“Wooooh … surat dari secret admirer ini,” kata Diana pada Renata saat pertama kali dia mendapatkan surat itu.

Selama ini Renata begitu menikmati hidupnya yang penuh kesenangan, menjadi seorang model yang tampil disana-sini. Paras cantik dengan rambut panjang indah terurai membuat kakak-kakak kelas kagum padanya. Tidak ada yang menyangka bahwa Renata akan berubah bahkan tetiba mengenakan jilbab.

Sepertiga malam, Renata kembali larut dalam sholat malamnya. Dalam sujud Renata menangis meminta kemudahan untuk bisa lepas dari Yoga, kekasih yang sangat dicintainya. Renata merasa tidak sanggup dan tidak tega untuk memaksakan kehendaknya pada Yoga.

“Rabb … bagaimana caraku keluar dari hubungan ini.” Renata menangis tersedu menelungkupkan tangan di wajahnya.

********

Hari berlalu, doa Renata terkabul dengan caraNya yang indah.

“Re … Yoga kecelakaan saat perjalanan pulang ke Surabaya, meninggal dunia Re … “ tangis mama Yoga pecah terdengar dari balik telepon.

Renata terduduk lemas, air mata mengalir deras. “Ya Raaabbb…”

Masih dalam kondisi tidak percaya, Renata bergegas ke rumah Yoga ditemani Diana. Sepanjang perjalanan Renata tidak mampu menahan air mata.

Rumah Yoga tampak ramai oleh kehadiran para pelayat, perlahan Renata melangkah memasuki ruang tamu. Tampak jenazah Yoga berbalut kain jarik, Renata terduduk lemas.

Diana memeluknya erat, “Sabar Re … “ ujar Diana.

“Setiap malam aku meminta kepada Allah untuk berpisah dengannya Di, tapi bukan dengan cara seperti ini.” Renata menangis.

Tidak pernah terbayangkan olehnya akan berpisah dengan Yoga selamanya. Jika saja bisa, Renata ingin mengulang waktu dan kembali pada masa dimana dia terakhir kali bertemu dengan Yoga malam itu.

Malam itu, sebenarnya aku ingin berkata, kamu cantik dengan jilbab itu Re. Aku suka kamu hijrah, dan aku ingin membersamai hijrahmu. Jangan memutuskan hubungan denganku, kita menikah saja, bagaimana? Aku mencintaimu.

Kalimat terakhir Yoga, tertulis di buku hariannya.

-The end-

Fiksi Mini by. Ceu Moon
Surabaya, 23 Juli 2018

Kutipan

DONAT KENTANG (Day 2)


Hari kedua long weekend di kampung halaman, kali ini coba-coba lagi bikin donat. Ini kedua kalinya bikin donat, yang pertama bikin donat bareng teman-teman halaqoh dan hasilnya lumayanlah walaupun agak garing gronjal-gronjal tidak mulus dan (lagi) mendekati gosong hehe, nampaknya karena apinya kebesaran. Eh tetiba aya jadi ingat om saya (adik ummi’ saya) yang ada di Bangil, beliau pandai sekali masak, mau jenis makanan apapun dan kue apapun beliau bisa dan hasilnya enak, bahkan beliau juga bisa menjahit dan membuat baju. Haaaaaa…. padahal beliau laki-laki, dan saya yang perempuan masak ga bisa, pokoknya apapun yang terjadi saya harus bisa! Hohoho..

Bikin donat ternyata ga sulit-sulit amat, hanya saja memang butuh sedikit tenaga saat meng-uleni adonan sampai kalis (dibanting, di tepuk, di remas, lama-lama bisa berotot juga). Bahan yang saya pakai : tepung terigu, kentang, telur, susu plan, mentega, fermipan 1 sachet, gula pasir, meses cokelat. Fermipan diberi air hangat dan diamkan, kentang dikukus dan mentega di cairkan. Saya pakai 2 butir telur, yang lainnya tidak pakai takaran (masih tetap pakai feeling, dikira-kira yang sekiranya akan pas hehe). Telur dan gula di mixer hingga mngembang (ga dimixer juga gak pa-pa kayaknya), masukkan fermipan, susu, kentang rebus yang sudah dihaluskan dan tepung terigu. Aduk rata dan uleni sampai kalis, sampai adonanya tidak lengket lagi ditangan. Kalau sudah, adonan di buat bulat-bulat, taruh atas wadah dengan jarak yang agak renggang (karena nanti akan mengembang) lalu diamkan 15-20 menit. 

Kalau adonan sudah nampak mengembang maksimal, lubangi tengahnya dan goreng dengan api sedang. Sering-sering di bolak balik karena cukup cepat matangnya donat dan mudah gosong jika tidak benar-benar diawasi. Biarkan dingin lalu olesin mentega dan taburi meses cokelat, jadilah donat kentang ala-ala anak muda hahaha… hasilnya lumayan enak, empuk. Bisa dikatakan tingkat keberhasilannya 78% (belum berhasil banyak karena belum mulus bener bentuknya, masih mengsle-mengsle). Saya pakai tepung kurang lebih setengah kilo kayaknya, dapatnya 50-an donat jadi bingung deh gimana ngabisinnya. Akhirnya dibagi-bagi ke tetangga dan keluarga terdekat, tentu tidak lepas dari muqaddimah “Mumun lagi coba-coba belajar bikin donat” hehe biar ga salah paham kalau rasanya belum sesuai lidah mereka. Ada tetangga yang belum dikasi muqaddimah sudah salah paham duluan, “eh kok ada bikin donat? Mumun tunangan ya bu?” kata tetangga sebelah ke ummi’ saya, jiaaahhhhahahah… tepok jidat (sambil mengamini maksud positifnya *eeh).

Hari yang menyenangkan, merasa telah berhasil membuat sesuatu hihihi… mari kita coba membuat yang lain. Di rumah lagi ada banyak pisang, jadilah saya kepikiran membuat Banana Cake.. just try it 😀

Surabaya, 30 Maret 2017

Kutipan

MACARONI SCHOTEL (Day 1)

Coba-coba bikin macaroni schotel, resepnya mudah dan cara buatnya juga gampang kayak bikin omelet. Bahan-bahannya : macaroni, sosis, keju quick melt, telur, susu plan, bubuk lada hitam, bubuk merica, garam, oregano, bon cabe. Resepnya ga pakai takaran, semua pakai feeling, pokoknya bagaimana yang sekiranya rasanya akan pas hehehe. Macaroni yang sudah direbus dimasukkan kedalam telur yang sudah di kocok, masukkan juga keju quick melt parut, sosis yang sudah dipotong-potong, susu plan, bubuk lada hitam (ini sesuai selera saja, jika tidak mau pakai juga tidak apa-apa), merica bubuk dan juga garam. Aduk dan masukkan ke aluminum foil atau wadah yang lain juga gpp yang penting bisa dipakai untuk dikukus atau dipanggang.

Macaroni schotel ini saya beri taburan di atasnya, tidak diberi taburan juga tidak apa-apa (disesuaikan dengan selera). Saya beri taburan keju quick melt parut, oregano dan bon cabe level 10. Mungkin ini sedikit kurang tepat, saya memanggangnya di atas cake pan hahaha tapi cukup berhasil loh walau agak gosong bawahnya karena terlalu lama saya panggang. Macaroni schotel juga bisa dikukus, kalau dikukus nampaknya akan lebih aman dari bencana gosong hehe. Dan jadilah macaroni scotel ala-ala saya, dari segi rasa lumayan untuk pemula tapi ya begitu bawahnya gosong. Mmmm..bisa dikatakan tingkat keberhasilannya 52%, jika diibaratkan ulangan sekolah maka mungkin akan dapat nilai 5 hahaha

Well, tidak semua berjalan mulus, yang penting mau mencoba dan mencoba lagi memperbaiki kualitas hasil karya. Dicari-cari mana letak kekurangannya, kesalahannya, diperbaiki agar bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Akan saya coba lagi lain waktu, semoga bisa lebih sesuai dengan ekspektasi saya. Fun cooking, yang penting bahagia bisa melakukannya bersama keluarga di rumah. Eh hasilnya sempat saya bagikan ke tetangga juga, tentu saja dengan muqaddimah “ini baru belajar, hasil coba-coba jadi belum berhasil 100%” hehe.. let’s try again.

Surabaya, 30 Maret 2017

Kutipan

Happy Long Weekend

          Dua hal yang saya ingin bisa sejak dulu, memasak segala macam makanan termasuk sejenis kue dan menjahit baju (bukan sekedar menjahit tapi membuat). Dua tahun yang lalu saya coba untuk belajar menggunakan mesin jahit, tapi belum juga bisa sampai akhirnya saya jual lagi mesin jahit listrik yang baru saya beli (pada dasarnya karena kurang mau bersabar dalam belajar). Saya rasa setiap orang mungkin bisa menjahit (terutama menjahit dengan manual memakai tangan, seperti menjahit bagian rok/celana yang sedikit robek dsb) tapi orang yang bisa menjahit belum tentu bisa membuat baju. 

Mungkin karena saya belajarnya secara otodidak sehingga belum juga bisa berhasil menggunakan mesin jahit, setiap kali saya mencoba menjahit kain dengan mesin jahit listrik yang saya beli benangnya mesti jadi kacau macet dan mbulet tidak karuan 😀 , akhirnya saya memutuskan untuk sementara saya menyerah dulu belajar menjahit, suatu saat saya akan memulai belajar kembali dengan jiwa yang lebih siap hehe. Setidaknya saya telah berhasil membuat satu karya dalam hal menjahit, yakni sarung bantal hahaha… iya, saya membuat satu sarung bantal dengan kain batik dan menjahitnya manual dengan tangan (rasa-rasanya semua orang bisa hihihi…). 

Dan entah dari mana asalnya, akhir-akhir ini saya ingin mencoba belajar membuat kue. Kalau saya runut-runut pada kejadian masa lampau (halah…), nampaknya berawal dari faniyah halaqoh kurang lebih satu bulan yang lalu, membuat donat. Saya penyuka donat sehingga ketika tiba jadwal faniyah saya mengusulkan untuk membuat donat saja, dan amazing… donat kami berhasil dan tidak sulit-sulit amat membuatnya, walau hasilnya sedikit membuat tertawa geli karena bentuk donatnya tidak rapi, tidak mulus, dan garing mendekati gosong, tapi tetap saja menyenangkan.  Saya ketagihan dan ingin mencoba membuatnya lagi di kampung halaman nanti ketika pulang saat long weekend (lebih tepatnya ingin pamer ke ummi’ saya kalau saya bisa bikin donat hehe).

Long weekend yang dinanti pun akhirnya datang, harpitnas saya ambil cuti sehari, meluangkan waktu untuk keluarga itu perlu dan wajib. Saya berencana di rumah membuat donat, rencana piknik tipis-tipis ke pantai 9 Sumenep di pending dulu untuk sementara waktu, all out di rumah saja untuk orangtua dan keluarga. Dan semalam saya baru menyadari, bahwa memasak bisa membantu saya untuk coret-coret di blog lagi hihihi… walau saya tidak yakin apa iya ada orang yang gemar membaca blog saya haha… So, mari simak tulisan saya berikutnya tentang coba-coba bikin kue hehe..

Sumenep, 27 Maret 2017

 

Kutipan

Nothing Reason (Late Post) 

Terkadang saya heran, ketika saya pulang kampung untuk waktu yang sedikit lama (tidak lama sebenarnya, hanya 5 hari) orang-orang banyak yang menanyakan “kenapa? Ada apa? Kenapa lama sekali?”. Tidak sedikit orang yang menanyakan hal ini ketika saya pulang ke Sumenep pekan lalu. Dan saya hanya bisa menjawab “apa harus ada alasan untuk saya pulang ke kampung halaman saya?”. Saya pulang ya karena ingin pulang, ingin menjenguk dan berkumpul dengan keluarga, just it. 

Pulang ke kampung halaman itu tidak harus menunggu ada hal-hal suka seperti lamaran, atau pernikahan, dsb. Dan pulang ke kampung halaman juga tidak harus menunggu hal-hal duka seperti ada keluarga yang sakit misalnya, meninggal, dsb. saya pulang karena memang sudah saatnya saya meluangkan waktu untuk pulang, menjenguk orang tua, menghabiskan waktu bersama, melayani orang tua, dsb.

Home is where the love is, sebahagia apa dan sesukses apa kita di rantau, jangan lupakan orangtua dan keluarga yang ada di kampung halaman. Jangan berikan sisa waktu, tapi luangkan waktu. Kita tidak akan sebesar ini jika tidak ada orang tua dan keluarga. Harus selalu ingat pada asal muasal, dan percayalah salah satu obat rindu adalah pertemuan. Jangan siksa orang tua dan keluarga kita dengan rindu yang tidak berkesudahan. Bukan mudah menahan rindu itu, apalagi rindu orang tua pada anaknya. 

Surabaya, 19 November 2016 

​SPEKULASI TENTANG RASA (LISAN 2)


Kelanjutan dari post sebelumnya, kali ini tentang spekulasi rasa. Akan lebih baik kita hindari, berspekulasi tentang rasa. Menjudge tentang perasaan orang lain. Semisal ketika seorang Fulan berkata didepan umum “si Fulanah ini memang maunya menikah dengan fulan ini, tapi Fulannya tidak mau, emoh..emoh.. jare si Fulan”. Atau kalimat-kalimat “Fulanah suka sama si Fulan”. Tidak baik hal seperti ini dilisankan apalagi di hadapan banyak orang, bisa menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik dan dapat melukai hati yang bersangkutan. Jangan berspekulasi tentang rasa karena rasa adalah perkara hati, hanya pemiliknya yang tahu,  dan kita bahkan tidak berhak untuk sekedar memikirkannya. Siapa kita yang berani meraba-raba dan kemudian membeberkan isi hati orang lain. 

Hal lain juga yang tidak jarang saya temui adalah perkara bully-membully orang yang belum menikah. Bahkan tidak jarang ada orang yang menjudge saudaranya sebagai pribadi “pilih-pilih”, “halah palingan kamu yang pilih-pilih makanya tidak nikah-nikah.” maashaAllah. “kamu sih ga mau berusaha…”, “ih kamu keduluan lagi loh…”, “makanya jangan karir melulu yang diurusin…”, “kuliahnya ketinggian sih…” dsb. Mungkin kita berniat bercanda, berniat memotivasi dsb, tapi siapa yang dapat menjamin bahwa kalimat-kalimat kita tidak melukai hati mereka? Bahasa teman saya “mereka itu sibuk memperolok kita yang belum menikah, memangnya mereka sudah sempurna mengurus rumah tangga mereka?”.

Menikah bukan lomba lari yang bab nya adalah siapa yang paling duluan sampai. Siapa yang tahu bahwa barangkali sudara kita tersebut telah berusaha semaksimal yang dia bisa hanya saja Allah belum menghendaki? Siapa yang tahu bahwa barangkali saudara kita tersebut memang memiliki kesulitan yang lain sehingga belum bisa ke arah menyempurnakan separuh agama? Bertanya “kapan menikah” boleh tapi jangan sampai menjadi dengung nyamuk yang bunyinya sangat mengganggu kenyamanan orang tidur, apalagi jika ditambahi dengan spekulasi-spekulasi yang tidak baik. Dari segala permasalahan, yang dibutuhkan adalah solusi solutif, bukan kalimat yang semakin mengusutkan benang kusut. 

Sebagaimana Al.Bukhari dalam kitab Shahihnya No. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya No. 74 meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam mitab Shahihnya hadist No. 10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi saw bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Surabaya, 5 Januari 2017